Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pertemuan IMF-World Bank 2018 di Bali. (foto: Antara Foto/Afriadi Hikmal)

harianpijar.com, BALI – Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya, A Prasetyantoko mengatakan pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengibaratkan peperangan perdagangan dan persaingan ekonomi layaknya cerita dalam serial ‘Game of Thrones’, menggambarkan suatu kepemimpinan dan positioning politik.

“Itu saya kira penting. Dengan pidato presiden yang sebetulnya menunjukkan masalah secara sangat lugas tetapi tidak langsung, tidak satupun negara yang merasa disebut namanya. Tapi esensi yang disampaikan betul-betul lugas menyampaikan masalah yang hari ini kita hadapi dalam konteks global,” kata A Prasetyantoko saat dikonfirmasi, di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Menurut A Prasetyantoko, dirinya melihat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memposisikan bahwa secara noteable menunjuk masalah global secara sangat lugas dengan tanpa menyakiti satupun pemimpin dunia.

“Itu saya kira satu hal yang penting juga dalam konteks lebih ke ekonomi politiknya,” ujar A Prasetyantoko.

Lebih lanjut, ditegaskan A Prasetyantoko, kedepan situasi salah satu tantangan terberat soal komoditi bagi negara berkembang. Karena, terlihat akan ada pengetatan likuiditas yang agak bersistem, dalam arti tidak akan selesai dalam waktu dekat.

“Khusus untuk likuiditas ini saya kira koordinasi kebijakan kemudian sentimen menjadi penting untuk menjaga supaya likuiditas tidak lebih ketat,” tegas A Prasetyantoko.

Selanjutnya, A Prasetyantoko juga menjelaskan, dengan tekanan yang sama seperti tahun 2013, posisi Indonesia sudah jauh berbeda dan lebih tahan. Bahkan, pemberitaan event besar ekonomi ini pun turut diliput oleh media asing non mainstream ekonomi dan mereka mereview pasar dengan merujuk di acara IMF-World Bank ini.

“Sehingga signifikansinya acara dibuat segitu banyak coverage begitu luas. Salah satu masalah ekonomi kita adalah soal sentimen. Dan pemberitaan ini saya kira menjadi salah satu sentimen yang sangat baik untuk memposisikan Indonesia pada tempat yang benar. Sebab keputusan-keputusan investasi juga di drive oleh sentimen,” jelas A Prasetyantoko.

Selain itu, juga dikatakan A Prasetyantoko, secara umum event ini bisa menjadi counter cycle.

“Ketika kita sedang menghadapi siklus yang tidak terlalu menguntungkan bagi kita karena tekanan eksternal, acara ini menjadi counter cycle Indonesia,” tandas A Prasetyantoko. [elz/med]

loading...