Sekjen-PSI-Raja-Juli-Raja-Juli-Antoni-di-kantor-Bawaslu
Sekjen PSI Raja Juli Antoni di kantor Bawaslu. (foto: Liputan6/Muhammad Radityo Priyasmoro)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) optimistis dapat lolos dalam parlemen pada Pemilu 2019 mendatang.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni, dengan sisa waktu tujuh bulan menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 lebih dari cukup untuk meningkatkan elektabilitas partai. Karena itu, dirinya optimis partainya dapat lolos dalam parlemen.

Sementara, berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Agustus 2018, PSI meraih elektabilitas di bawah 1 persen.

Bahkan, jika ditambah margin of error sebesar 2,9 persen dari survei itu, PSI belum mampu melewati ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4 persen.

Tetapi, ditegaskan Raja Juli Antoni, hasil survei internal PSI menunjukkan angka yang berbeda.

“Kita ada survei internal yang mengatakan hasilnya tidak seburuk itu. Tapi apapun itu, survei ini tentu akan kita pelajari,” tegas Raja Juli Antoni kepada media, di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 13 September 2018.

Lebih lanjut, Raja Juli Antoni menjelaskan, sebagai partai baru PSI kesulitan untuk unjuk gigi. Lantaran, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan masa kampanye baru akan dimulai pada 23 September 2018.

“Kita gak punya ruang untuk berkampanye selama ini. Kita gak boleh berliklan, memasang atribut, ya memang secara politik kita dibongsai,” jelas Raja Juli Antoni.

Selanjutnya, juga dikatakan Raja Juli Antoni, Messi beruri dirinya yakin dalam tujuh bulan masa kampanye PSI dapat meraih suara maksimal.

Bahkan, dirinya menargetkan PSI dapat meraih 7-8 persen suara dalam Pemilihan Umum Legistlatif (Pileg) 2019.

Karena, menurutnya target itu adalah yang paling realistis bagi PSI sebagai pendatang baru.

“Sebagai partai baru, saya kira masih mungkin dan realistis untuk dikejar,” ujar Raja Juli Antoni.

Sementara, Raja Juli Antoni juga menjelaskan, soal adanya anggapan PSI tak memiliki sosok yang populer secara nasional, sejak awal dibentuk PSI tidak ingin mengandalkan ketokohan.

Karena, PSI ingin mengubah cara berpikir masyarakat bahwa partai politik harus memiliki tim yang kolektif, serta jaringan organisasi dan struktur yang solid.

“Kami tidak mengandalkan tokoh. Sejak awal memang kita tak ada tokoh. Saya kira tujuh bulan cukup. Insya Allah lah,” jelas Raja Juli Antoni.

Sementara sebelumnya, peneliti LSI Adjie Alfaraby menilai, PSI sukup masif memperkenalkan diri melalui media sossial (medsos) untuk menyasar kalangan milenial. Namun, menurutnya masalah utama PSI tidak memiliki tokoh populer.

Lebih lanjut, ditegaskan Adjie Alfaraby, kader yang direkrut di berbagai daerah cenderung minim pengalaman.

“Dia tidak mampu membuat common issue untuk milenial. Milenial kan cenderung apolitis. Bagi milenial, PSI bukan partai yang mewakili milenial,” kata Adjie Alfaraby, Rabu 12 September 2018.

Sedangkan diketahui, LSI mengelompokkan PSI bersama lima partai lain yang elektabilitasnya tak mencapai 1 persen.

Partai-partai itu adalah Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,6 persen, Partai Bulan Bintang (PBB) 0,2 persen, PSI 0,2 persen, Partai Berkarya 0,1 persen, Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) 0,1 persen, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 0,1 persen.

“Enam partai ini butuh keajaiban lolos PT (parliamentary threshold),” tandas Adjie Alfaraby.

loading...