masa-pendukung-ahok
Foto Ilustrasi.

harianpijar.com, JAKARTA – Dengan munculnya nama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden (Cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) di pemilihan presiden (Pilpres) 2019, setidaknya menimbulkan kekecewaan dari pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Menurut Pengamat politik dari Poltracking Hanta Yudha, kekecewaan pendukung Ahok (Ahokers) ini dikarenakan Ma’ruf Amin menjadi tokoh penting yang mengeluarkan rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan, rekomendasi itu menegaskan pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mengaitkan Surat Almaidah 51 sebagai penistaan agama.

“Soal beberapa kalangan ada kekecewaan itu tidak bisa dihindari. Karena politik jalan tengah tadi, solusi hasil negosiasi. Misalnya di pihak pak Jokowi ada catatan pendukung pak Ahok (Ahokers),” kata Hanta Yudha saat diskusi Melodramatis Capres-Cawapres, di Jakarta, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Lebih lanjut, ditegaskan Hanta Yudha, hal itu terjadi karena pilihannya terbatas. Namun, persoalannya kekecewaan Ahokers tetap tidak mungkin mereka akan memilih Prabowo Subianto.

“Pilihannya ada tiga,” tegas Hanta Yudha.

Selanjutnya, Hanta Yudha menjelaskan, pertama Ahokers akan abstain atau golput tidak memilih. Kemudian, kedua Ahokers akan memilih calon lain, tapi hal ini menurutnya tidak mungkin dan ketiga Ahokers akan tetap memilih Joko Widodo (Jokowi), meskipun dengan kekecewaan pada Ma’ruf Amin.

“Jadi jawaban saya ada dua kemungkinan, satu mereka memutuskan abstain. Kedua bisa jadi mereka tetap memilih Jokowi tapi tidak aktif di relawan atau bahkan tetap aktif, tergantung strategi pendekatannya,” jelas Hanta Yudha.

Selain itu, juga dikatakan Hanta Yudha, pilihan kekecewaan ini sama halnya dengan yang dirasakan kelompok yang masih berharap hasil ijtima’ ulama atau Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo. Bahkan, dikubu Prabowo juga ada kekecewaan soal tidak diakomodirnya hasil ijtima’ ulama dan AHY oleh Partai Demokrat. Karena itu, pilihannya mereka adalah abstain atau akan menerima.

“Jadi yang diperlukan sekarang di dua kubu adalah melakukan normalisasi,” ucap Hanta Yudha. [elz/rep].

loading...