ray-rangkuti
Pengamat Politik dan juga pendiri Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti.

harianpijar.com, JAKARTA – Pengamat politik dan juga pendiri Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama organisasi eks demonstran anti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinilai akan kembali merapat dan akan tetap mendukung Prabowo Subianto, meski calon presiden (Capres) yang diusung Partai Gerindra, PKS, dan PAN, tersebut tidak memilih calon wakil presiden (Cawapres) nya dari dua sosok yang direkomendasikan.

Bahkan, GNPF Ulama disinyalir menggunakan isu-isu agama untuk kepentingan politik, bukan untuk memperjuangkan umat.

“Isu agama diproduksi untuk kepentingan politik. Secara umum tidak ada yang berubah. Misal, meskipun GNPF mengatakan ‘kami kecewa’, paling sebulan dua bulan akan merapat lagi ke Prabowo. Kita lihat saja,” kata Ray Rangkuti di Gado-Gado Boplo, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Selanjutnya, Ray Rangkuti juga menegaskan, keputusan Ijtima Ulama yang merekomendasikan dua nama yakni Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Salim Segaf Al-Jufri sebagai pendamping Prabowo Subianto di pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Namun, visi dari rekomendasi tersebut masih mengawang, artinya belum ada sesuatu yang jelas.

“Ketika GNPF ulama menyodorkan dua nama, sebetulnya visinya apa? Kita belum tahu. Apakah memang tidak disebutkan, apa memang tidak ada, tapi yang penting namanya muncul. Hanya namanya yang dominan. Visi-misinya tidak tahu. Memperjuangkan apa? Umat yang mana? Apa targetnya? Kenapa figur tersebut harus dimunculkan? ” tegas Ray Rangkuti.

Lebih lanjut, juga dijelaskan Ray Rangkuti, hal semacam itu merupakan permainan simbolik dan fungsinya hanya untuk kepentingan politik. “Ini simbolik, permainan simbol, dan fungsinya untuk politik,” jelas Ray Rangkuti.

Sementara, dalam musyawarah politik GNPF Ulama yang mereka sebut ijtimak ulama, nama pengkhotbah Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri diajukan untuk dipilih Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden.

Namun, sehari sebelum pendaftaran peserta pemilihan presiden (Pilpres) 2019 ditutup KPU, Kamis 9 Agustus 2018, mantan Danjen Kopassus itu mememilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai cawapres pendampingnya. [elz/sua].

loading...