jokowi-prabowo
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

harianpijar.com, JAKARTA – Pengamat Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor, Irfan Syauqi Beik mengatakan siapapun pemimpin terpilih nanti, diharapkan mampu mendorong sektor industri keuangan syariah. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai akan semakin baik.

Sementara diketahui, calon presiden (Capres) petahana Joko Widodo (Jokowi) memutuskan memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KM Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden untuk mendampinginya di Pilpres 2019. Sedangkan, pesaingnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto juga secara resmi telah menggandeng Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2019.

“Saya melihat ada dua yang harus dikerjakan di tiga tahun pertama siapapun yang nanti mempimpin. Tiga tahun pertama itu, makanan halal sama pariwisata halal. Ini harus digenjot,” kata Irfan Syauqi Beik saat dikonfirmasi, Jumat, 10 Agustus 2018.

Menurut Irfan Syauqi Beik, berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2019, pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen. Karena itu, apabila keduanya difokuskan pada pemimpin selanjutnya, maka ke depan akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik.

“Misalkan bisa optimalkan sektor riil ini dari makanan halal, pariwisata halal dan sebagiannya, itu saya yakin ini bisa mendorong bahkan pertumbuahan ekonomi. Jadi saya yakin kalau target ekonomi 7 sampai 8 persen tiap tahun, itu menurut saya sangat mudah dicapai. Dengan cara apa? Dengan cara manfaatkan keuntungan ekonomi syariah,” ujar Irfan Syauqi Beik.

Lebih lanjut, ditegaskan Irfan Syauqi Beik, industri makanan halal hingga satu tahun ini, volume penjualan globalnya sudah mencapai sekitar USD 3,7 triliun.

“Kalau kita misalkan bisa manfaatkan 10 persen saja, itu sudah dapet USD 370 miliar, itu lebih besar dari APBN. Jadi bayangin 10 persen saja pangsa pasar industri makanan halal itu udah bisa ningkatin PDB kita hampir 4 persen,” tegas Irfan Syauqi Beik.

“Artinya kenapa sekarang pertumbuhan ekonomi kita stagnan 5 persen? Karena kita tidak membidik sektor-sektor itu di mana kita punya potensi untuk kita maksimalkan. Itu masalahnya,” tandas Irfan Syauqi Beik. [elz/mer].

loading...