Prabowo-Subianto
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. (foto: dok. Antara)

harianpijar.com, JAKARTA – Tiga nama sebagai bakal calon wakil presiden (Cawapres) yakni Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri, Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang diusung Partai Gerindra dan koalisinya, saat ini masih dalam pertimbangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Karena itu, mantan Danjen Kopassus itu belum dapat menentukan sosok yang bakal menjadi pendampingnya dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Sementara diketahui, nama Salim Segaf Al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad (UAS) yang merupakan usulan dari hasil Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional beberapa waktu lalu. Kedua nama tersebut direkomendasikan sebagai pendamping Prabowo Subianto. Sementara, putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) disampaikan Partai Demokrat ke koalisi Gerindra.

Selain itu, ketiga nama tersebut dinilai memiliki kelebihan maupun kekurangan sebagai bakal cawapres. Tingkat popularitas dan elektabilitas ketiga nama itu dianggap menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh Prabowo Subianto sebelum memutuskan.

“Dalam konteks Pemilu, Pilpres yang dibutuhkan adalah seorang figur ketokohan dari capres, cawapres itu. Uji ukurannya adalah popularitas dan elektabilitas,” kata pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin kepada media, Sabtu 4 Agustus 2018.

Menurut Ujang Komarudin, Salim Segaf Al-Jufri dalam sorotannya adalah sosok yang sangat berkuasa di PKS lantaran menduduki jabatan sebagai Ketua Majelis Syuro partai. Bahkan, kekuasaan yang dimiliki Salim Segaf Al-Jufri di internal itu bisa menjadi modal agar partai mendorong namanya dipilih oleh Prabowo Subianto.

Bahkan, sebelum masuk dalam rekomendasi Ijtima Ulama, nama Salim Segaf Al-Jufri itu masuk dalam bagian dari sembilan nama yang diusulkan PKS untuk menjadi capres/cawapres. Karena itu, tak heran jika nama Salim Segaf Al-Jufri yang muncul meski lewat ‘tangan’ Ijtima Ulama.

“Makannya tidak heran di akhir-akhir muncul nama beliau. Kan diawal-awal ada nama delapan kader lainnya. Di ujung nama Salim Segaf yang keluar. Intinya dia orang yang berpengaruh di PKS,” ujar Ujang Komarudin.

Lebih lanjut, ditegaskan Ujang Komarudin, dirinya juga menganggap meskipun begitu Salim Segaf Al-Jufri belum memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas yang tinggi bersandar beberapa hasil survei. Bahkan, tingkat popularitas dan elektabilitas Salim Segaf Al-Jufri masih jauh di bawah AHY maupun Ustaz Abdul Somad, untuk popularitas.

Karena, fakta tersebut yang membuat Salim Segaf Al-Jufri belum bisa mengerek suara bagi Prabowo Subianto dalam perebutan kursi RI 1 kali ini.

“Jadi hebat di internal belum tentu bisa kuat untuk menambah dukungan penuh pada Prabowo,” tegas Ujang Komarudin.

Sementara, nama Ustaz Abdul Somad (UAS) mulai ramai diperbincangkan setelah Ijtima Ulama mengeluarkan rekomendasi beberapa waktu lalu. Tetapi, Ustaz Abdul Somad (UAS) buru-buru menolak mendampingi Prabowo Subianto. Bahkan, dirinya justru mendukung pasangan Prabowo-Salim sebagai pasangan yang merepresentasikan tentara-ulama.

Menurut Ujang Komarudin, meski Ustaz Abdul Somad (UAS) memiliki popularitas yang tinggi di masyarakat dan kerap dinantikan setiap kegiatan ceramahnya, tetapi dirinya tak memiliki pengalaman berpolitik.

Bahkan Ustaz Abdul Somad (UAS) juga tak mempunyai partai yang justru bakal membuat resitensi dengan partai politik pengusung Prabowo Subianto, seperti PKS, Demokrat, maupun PAN. Namun, pada posisi itu, Prabowo Subianto bakal memilih agar partai pengusungnya tetap solid.

“Karena bagaimana pun Abdul Somad tidak memiliki partai. Sedangkan Prabowo membutuhkan partai politik untuk melengkapi persyaratan (pencalonan capres dan cawapres),” ujar Ujang Komarudin.

“Saya sepakat orang baik terjun ke politik biar politik jadi baik. Tapi biarlah ulama bekerja untuk berdakwah, biarlah ustaz Somad mengurus umat,” lanjut Ujang Komarudin menambahkan.

Selanjutnya, dikatakan Ujang Komarudin, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki peluang yang cukup besar dipilih Prabowo Subianto sebagai pendampingnya. Karena, dinilai AHY unggul dalam segi usia dan pengalaman politik yang dimiliki sang ayah, menjadi presiden dua periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Selain itu, AHY juga memiliki elektabilitas yang lebih bagus jika dibandingkan dengan Somad dan Salim Segaf dalam konteks pilpres, untuk posisi cawapres.

Namun, menurut penilaiannya AHY belum memiliki pengalaman politik yang mumpuni, baik di eksekutif maupun legislatif. Terakhir, AHY hanya sebatas ikut dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 berpasangan dengan Sylviana Murni, dan tumbang pada putaran pertama.

Kemudian, putra sulung SBY ini baru mulai aktif sebagai kader Demokrat. AHY melepas baret hijaunya dengan pangkat terakhir sebagai mayor, mengikuti jejak ayahnya yang terjun ke politik dengan bintang empat di pundak.

“Dalam konteks pengalaman politik masih mentah, masih perlu banyak belajar. Ini yang diragukan oleh banyak orang. Karena pengalaman eksekutif, legislatif itu belum pernah,” tandas Ujang Komarusin yang juga pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia ini [elz/cnn].