Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

JAKARTA, harianpijar.com – Partai Bulan Bingtang (PBB) berharap Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahetra (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) segera merespons imbauan dari pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab terkait pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Menurut Politikus Partai Bulan Bintang (PBB) Sukmo Harsono, partainya menunggu sikap resmi Rizieq Shihab soal Koalisi Keumatan pada Pemilihan Presiden 2019. Karena, mereka yang memiliki kursi di DPR (Gerindra, PKS, PAN-red) harus segera membuat kriteria capres dan cawapres hak dan kewajiban masing-masing partai.

Bahkan, jika nantinya muncul tiga pasangan calon, sikap koalisi juga harus jelas sedari awal. Lain itu, partainya sangat tidak mengharapkan berlarut-larutnya Gerindra dan PKS serta PAN dalam menentukan pasangan capres dan cawapres.

“Sebab, akan membawa kerugian dalam mengatur strategi pileg dan pilpres yang berjalan serentak,” kata Sukmo Harsono saat dikonfirmasi, Sabtu 30 Juni 2018 baru lalu.

Selanjutnya, juga ditegaskan Sukmo Harsono, partai juga berharap pada awal Juli ini, semua urusan dan arahan sudah jelas.

“Bila tidak, PBB menganggap Gerindra, PKS dan PAN mengabaikan harapan Habib Rizieq,” tegas Sukmo Harsono.

Kemudian, Sukmo Harsono juga mengatakan, kondisi Pilkada Serentak 2018 sangat jauh jika dibandingkan dengan Pilkada DKI. Fakta koalisi parpol yang tidak merujuk agama merupakan sebuah bukti nyata bahwa pilkada saat ini merupakan sebuah pertarungan politik.

Selain itu, kemenangan beberapa tokoh Islam pada Pilkada Serentak 2018 sebenarnya tidak simetris dengan isu agama yang selama ini didengungkan. Isu itu, yakni jika calon diusung kelompok yang diklaim sebagai partai non-agama akan kalah dan pembela ulama akan menang.

Lebih lanjut, Sukmo Harsono menjelaskan, Pilkada Serentak 2018 murni perang antara mesin partai, perang strategi, dan perang logistik. Diirinya juga berpendapat kontestasi tingkat daerah itu bukan perang kader Islam, dan bukan Islam, atau dari kelompok pembela dan penista agama.

“Kekalahan Djarot di Sumatera Utara juga bukan karena isu agama, tapi lebih pada isu putra daerah dan cacatnya yang kalah di Pilkada DKI,” tandas Sukmo Harsono. [elz/rep]

SUMBERRepublika
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR