Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

JAKARTA, harianpijar.com – Ketua Umum Partai Demokrat dan juga mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang pesta demokrasi (Pilkada) serentak telah membuat tensi politik nasional semakin panas. Bahkan, dalam pernyataannya, Susilo Bambang Yudhoyono menyebut ada pihak yang memang sengaja menjatuhkan pasangan calon (paslon) tertentu.

Selanjutnya, terkait dengan pernyataan politik Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memanaskan tensi politik nasional menjelang pilkada serentak dan pemilu 2019 ini, diantaranya sebagai berikut:

Pertama, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku melihat gejala ketidaknetralan pemerintah dalam proses demokrasi yang tengah berlangsung. Bahkan, dirinya mensinyalir adanya aparat Badan Intelijen Negara (BIN), Polri dan TNI yang diduga ikut berpolitik dan ingin menggagalkan calon-calon yang diusung partai besutannya.

“Yang saya sampaikan bukan isapan jempol apalagi mendramatisir. Ini yang saya sampaikan cerita tentang oknum. Ini nyata kejadiannya, bukan hoax,” kata mantan Presiden RI itu.

Selanjutnya, juga dikatakan Susilo Bambang Yudhoyono, hal ini disampaikannya dengan maksud agar TNI, Polri dan BIN dapat menjaga netralitas dalam kontestasi politik di negeri ini.

“Kenapa ini saya sampaikan, agar BIN, TNI, Polri netral. Ini nyata sekali kejadiannya. Kalau pernyataan saya ini membuat intelijen dan kepolisian tidak nyaman, dan mau menciduk saya, silakan,” ucap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menyampaikan keterangan yang bernada kontroversial itu.

Selanjutnya yang kedua, Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak hanya aparat negara yang tidak netral. Bahkan, dirinya juga membuat politik di Jawa Barat semakin memanas. Menurutnya, dirinya banyak menerima laporan telah terjadi kecurangan di pilkada yang merugikan pasangan calon yang diusung partainya. Salah satunya menjelang pilkada serentak, belum lama ini mantan Presiden RI itu menerima laporan bahwa rumah dinas mantan Wakil Gubernur Jabar yang kini menjadi calon Gubernur Jabar Deddy Mizwar digeledah.

“Apa harus rumah dinas mantan wakil gubernur digeledah, diperiksa pimpinan penjabat gubernur,” kata Susilo Bambang Yudhoyono (SBY0 saat konferensi pers, di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu 23 Juni 2018 baru lalu..

Bahkan, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak hanya itu, kediaman calon Wakil Gubernur Jabar Dedi Mulyadi juga mengalami hal serupa. “Mengapa hanya pasangan ini (diusung Demokrat), mengapa pasangan yang lain tidak dilakukan,” ujar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kemudian langkah ketiga, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut dirinya sedang diserang partai tertentu. Pernyataan tersebut dinilai menimbulkan kontroversial lainnya. Karena, saat ini diri pribadinya merasa tengah diserang oleh partai tertentu dengan mengatakan “SBY panik”.

“SBY tidak panik. Biasanya yang panik cenderung curang. Insya Allah, kami tidak curang. Tapi kami waspada,” tegas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Lebih lanjut, langkah keempat Ketua Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun media sosial juga membuat tensi politik nasional semakin panas. Dalam kicauan SBY di Twitternya mengungkapkan harapan agar pemilu 2019 berjalan aman, dan adil. Bahkan, bukan hanya itu dalam kicauan mantan Presiden RI itu juga berharap penegak hukum tidak jadi alat berpolitik.

“Semoga “black campaign” & “character assasination” tidak menjadi-jadi. Semoga tahun ini tak dipenuhi “hoax”, “hate speech” & intimidasi. Semoga yg berlaku bukan “hukum rimba”. Yg kuat pasti menang & yg lemah pasti kalah, tak perduli salah atau benar. *SBY*

“Semoga penegak hukum ( kepolisian, kejaksaan & KPK) tidak “kesusupan” agen-agen politik. Semoga intelijen juga tidak jadi alat politik *SBY*. Mari ingatkan sekaligus dukung pemerintah, utk tetap kelola ekonomi & kesejahteraan rakyat, meskipun kita berada di tahun politik *SBY*”. demikian cuit SBY. [elz.merd]

SUMBERMerdeka
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR