Ali-Mochtar-Ngabalin
Ali Mochtar Ngabalin. (foto: MI/Mohamad Irfan)

JAKARTA, harianpijar.com – Pihak Istana Kepresidenan meminta Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berhati-hati menyebut ada mark up di pengerjaan proyek Light Rail Transit (LRT). Karena, menurut Istana, bisa jadi ada pihak yang ingin menjebak Prabowo Subianto.

“Jadi apakah ada pakar ada yang mem-feeding informasi, hitungan ke Pak Prabowo, hati-hati jangan sampai membuat menjorokin Pak Prabowo dan menjadi sesat dan bisa menyesatkan kalau pidatonya tidak pakai data-data yang kuat, itu fitnah namanya. Hati-hati,” kata Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin seperti dilansir dari detik, Sabtu, 23 Juni 2018.

Lebih lanjut Istana pun menegaskan bahwa ada penghematan anggaran sebesar Rp 13 triliun dalam proyek LRT. Selain itu, proyek LRT juga disebut tidak sepenuhnya menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Saya ulangi, LRT ini proyek pertama pemerintah yang tidak sepenuhnya menggunakan APBN karena APBN itu sekitar 20-an (yang dipakai),” tutur Ali Mochtar Ngabalin.

Prabowo Subianto mengatakan, dirinya mendapat data terkait indeks harga proyek LRT sedunia dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Lantas apa kata Ali Mochtar Ngabalin?

“Kalau dia punya data, kalau beliau-beliau punya data atau Anies punya data, jangan sembarang. Tolong siapkan datanya,” ujar Ali Mochtar Ngabalin.

Seperti diketahui, Prabowo Subianto menuding biaya pembangunan LRT di Indonesia di-mark up. Bahkan, dirinya mengaku memiliki data soal biaya pembangunan LRT di dunia yang hanya berkisar US$ 8 juta/km.

Sedangkan di Palembang, yang memiliki panjang lintasan 24,5 km, biayanya hampir Rp 12,5 triliun atau dengan kata lain US$ 40 juta/km.

“Saya tanya harganya berapa proyeknya, Rp 12,5 triliun. Luar biasa. Rp 12,5 triliun untuk sepanjang 24 km. Saya diberi tahu oleh Gubernur DKI yang sekarang, Saudara Anies Baswedan, dia menyampaikan kepada saya: Pak Prabowo, indeks termahal LRT di dunia 1 km adalah 8 juta dolar,” kata Prabowo Subianto saat memberi sambutan di acara silaturahmi kader di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Kamis, 21 Juni 2018.

“Kalau ini, Rp 12 triliun untuk 24 km, berarti 1 km 40 juta dolar. Bayangkan. Di dunia 1 km 8 juta dolar, di Indonesia, 1 km 40 juta dolar. Jadi saya bertanya kepada Saudara-saudara, mark up, penggelembungannya berapa? 500 persen,” imbuhnya. (nuch/det)

loading...