partai-kebangkitan-bangsa
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

JAKARTA, harianpijar.com – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dinilai sebaiknya tetap berada di dalam koalisi mendukung Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden (Capres) pejawat di Pilpres 2019 mendatang.

Menurut Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, dirinya menilai belum ada tokoh yang elektabilitasnya menandingi Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo untuk diusung sebagai calon presiden (Capres).

“Secara akal sehat saya sepakat dengan Bung Romi,” kata Emrus Sihombing saat dikonfirmas awak media, Kamis 21 Juni 2018.

Lebih lanjut, Emrus Sihombing juga menegaskan, dirinya menilai hingga jelang pengajuan calon presiden (Capres), belum ada tokoh yang elektabilitasnya menandingi Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan calon presiden (Capres) pejawat, dan Prabowo Subianto yang kemungkinan akan maju kembali.

Karena itu, jika Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ingin membentuk koalisi baru, maka harus melakukan kalkulasi politik sematang mungkin.

“Mereka harus bekerja sama dengan calon-calon yang memiliki peluang tinggi untuk menang. Sekarang ya masih Pada Jokowi dan Prabowo. Sementara paslon lain, misalnya Gatot Nurmantyo masih jauh di bawah. Selisih antara Pak Jokowi dengan Prabowo saja berbeda 20 persen,” tegas Emrus Sihombing.

Selanjutnya, dijelaskan Emrus Sihombing, jika mengusung sosok diluar Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo, maka dibutuhkan energi yang lebih banyak untuk menyatunya partai-partai pendukung. Bahkan, PKB tidak mungkin sendiri mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden.

Karena itu, paling tidak ada dua atau tiga partai sehingga memungkinkan terpenuhi presidential threshold 20 persen kursi di parlemen atau 25 persen suara nasional.

“Memang sudah seharusnya partai-partai itu membuat keputusan (koalisi atau tidak) agar rakyat lebih cepat tahu, siapa paslon definitif, dan bisa mendiksikan, mengkaji dan mengambil keuputusan paslon yang mereka akan pilih,” jelas Emrus Sihombing.

Sementara diketahui, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum secara tegas memutuskan untuk ikut berkoalisi mendukung Joko Widodo (Jokowi) atau tidak dalam Pilpres 2019 mendatang.

Bahkan, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengklaim ada ajakan dari partai politik (parpol) lain untuk pembentukan poros ketiga pada Pilpres 2019. Namun, ajakan itu masih bersifat informal.

Menurut Muhaimin Iskandar, pembentukan poros koalisi partai politik sangat tergantung pada dua faktor yakni, konseptual serta power sharing, yang disepakati bersama. Karena, konseptual adalah kesamaan visi, misi, dan program, sedangkan power sharing adalah kekuatan masing-masing partai politik untuk berkoalisi.

“Kalau kedua faktor tersebut tidak mencapai kesepakatan, maka poros koalisi tidak terbentuk. Bisa juga jika ada partai yang tidak sepakat, maka batal bergabung dengan poros koalisi,” kata Muhaimin iskandar.

Selanjutnya, ditegaskan Muhaimin Iskandar, dirinya juga mencermati kemungkinan adanya partai politik yang batal bergabung dengan poros koalisi, karena tidak menyepakati dua faktor tersebut. Jika hal ini terjadi, maka kemungkinan terbentuknya poros ketiga dapat terjadi, menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU. [elz/rep].

loading...