Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

JAKARTA, harianpijar.com – Kuasa Hukum Novel Baswedan, Muhammad Isnur, menduga ada orang besar yang melindungi pelaku penyiraman air keras terhadap kliennya.

“Dugaan Novel di situ. Novel kan pernah menduga kalau ada yang membackup itu Jenderal karena itu mereka berani datang lagi,” kata Muhammad Isnur saat dikonfirmasi, Selasa, 19 Juni 2018 baru lalu.

Sementara sebelumnya, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu mengaku masih mendapat teror sepulang menjalani operasi mata di Singapura. Bahkan, dirinya melihat terduga pelaku penyerangan berada di seberang rumahnya saat baru sampai di Indonesia pada 22 Februari 2018.

“Saya pulang hari pertama tanggal 22 Februari, pelakunya di depan situ,” kata Novel Baswedan saat dikonfirmasi, di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu, 17 Juni 2018 lalu.

Menurut Muhammad Isnur, kemunculan kembali pelaku di kediaman Novel Baswedan memiliki motif teror. Karena itu, dirinya menduga pelaku ingin menantang Novel, sekaligus menunjukan bahwa perkara Novel tak bisa dibongkar.

“Pelaku seolah ingin bilang ‘lu enggak bisa apa-apa’, itu bagian dari perang psikologis,” ucap Muhammad Isnur.

Lebih lanjut, ditegaskan Muhammad Isnur, dirinya menganggap masih berkeliarannya para pelaku juga merupakan pelecehan terhadap hukum.

“Itu bentuk dari pelecehan hukum bahwa hukum tidak berkutik menangkap pelakunya,” tegas Muhammad isnur.

Sedangkan diketahui, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pelaku tak dikenal di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017 silam. Penyerangan itu terjadi usai Novel Baswedan melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ihsan yang berjarak sekitar tujuh rumah dari kediamannya.

Akibat penyiraman tersebut, mata kiri Novel Baswedan mengalami kerusakan 95 persen akibat cairan korosif tersebut. Bahkan, dirinya harus menjalani operasi di Singapura untuk memulihkan matanya.

Selanjutnya, Novel Baswedan juga beberapa kali mengatakan dugaan soal adanya oknum jenderal polisi di balik penyerangan terhadap dirinya. Dalam wawancara dengan Tempo pada Juni 2017, Novel Baswedan mengatakan jenderal itu berperan mengaburkan fakta dan bukti peristiwa penyiraman air keras.

“Ini informasi benar meski saya tak bisa bilang bagaimana saya mendapatkannya,” kata Novel Baswedan. (elz/temp).

SUMBERTempo
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR