Ace-Hasan-Syadzily
Ace Hasan Syadzily. (foto: Screenshot YouTube)

JAKARTA, harianpijar.com – Sekjen Sekretariat Bersama (Sekber) Indonesia yang diisi oleh Partai Gerindra, PKS, dan PAN, Muhamad Idrus mengatakan Rizieq Shihab meminta agar Pilpres 2019 hanya diikuti 2 poros, yaitu poros Mekkah dan poros Beijing.

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengkritik saran yang disebut dari Rizieq Shihab itu.

“Jangan ngarang deh. Ini masih suasana lebaran. Seharusnya ciptakan suasana kesejukan dan persaudaraan sesama anak bangsa,” ujar Ace Hasan Syadzily seperti dilansir dari detik, Minggu, 17 Juni 2018.

Lebih lanjut Ace Hasan Syadzily pun mempertanyakan kenapa menamakan koalisi harus menggunakan nama kota atau negara lain. Karena, menurutnya, politik Indonesia tidak ada urusannya dengan negara lain.

“Mengapa koalisi harus menamakan negara atau kota lain? Jangan menggunakan simbol koalisi menggunakan kota dari negara lain. Politik Indonesia tidak ada urusannya dengan negara lain,” katanya.

Selain itu, Ace Hasan Syadzily juga menyoroti soal istilah poros Beijing yang diidentikkan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dinilai pro kebijakan Presiden China, Xi Jinping. Padahal, dikatakan Ace Hasan Syadzily, Arab Saudi punya investasi lebih besar di China dibanding Indonesia.

“Lha wong Arab Saudi saja investasi di negara China Rp 870 triliun jauh di atas Indonesia yang hanya Rp 89 triliun. Jangan menggunakan istilah-istilah yang mengasosiasikan pemerintahan Jokowi yang tendesius. Terus mengidentifikasi dirinya paling Islami,” ungkapnya.

Sebelumnya, Idrus mengatakan poros Mekkah merupakan poros keumatan yang tetap konsisten mengusung agenda umat. Poros ini, menurutnya, tidak akan mengkriminalisasi agama.

“Obrolan dengan Habib Rizieq dengan Sekber ke depan Pilpres 2019 hanya ada 2 poros yang bertarung dimana Poros Keumatan tetap konsisten mengusung agenda umat di mana tidak akan mengkriminalisasi Agama, memenjarakan ulama serta mencurigai rakyat layaknya PKI yang dipresentasikan dengan Poros Mekkah melawan Poros Beijing,” kata Idrus kepada salah satu media, Sabtu, 16 Juni 2018.

“Poros Beijing di mana rezim Jokowi hari ini yang lebih dekat kebijakan Presiden RRC Xi Jinping One Belt One Road (OBOR), serbuan tenaga kerja asing dari Tiongkok serta meningkatnya hutang negara yang lebih Rp 5.000 Triliun sebagian besar dari China,” tambahnya. (ilfan/det)

loading...