Terpidana kasus korupsi E-KTP Setya Novanto.

JAKARTA, harianpijar.com – Terpidana kasus korupsi pengadaan blanko kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Setya Novanto, yang ditahan di Rumah Tahanan Sukamiskin, Bandung Jawa Barat, dikabarkan rajin menjalani ilmu agama. Ha tersebut disampaikan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum saat dikonfirmasi, di Pengadikan Tipikor, Jakarta, Jumat 8 Juni 2018.

“Oh iya, semua, salat tarawih bareng, kalau sahur ya tidak, tetapi saat berbuka kadang-kadang bareng, kalau tarawih pasti bareng karena masjidnya cuma satu,” kata Anas Urbaningrum yang juga sama-sama di tahan di Rumah Tahanan Sukamiskin Bandung.

Menurut Anas Urbaningrum, dirinya bersama Setya Novanto kerap mempelajari ilmu agama bersama-sama, seperti Ilmu Fiqih dan praktik-praktik Ibadah. Bahkan, Setya Novanto sangat rajin mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

“Pak Novanto rajin, jangan-jangan lama-lama bisa jadi kiai nanti,” ujar Anas Urbaningrum.

Seperti diberitakan, Pengadilan Tipikor Jakarta sebelumnya telah menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Terpidana kasus korupsi pengadaan blanko kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Setya Novanto. Bahkan, selain hukuman pidana penjara, Setya Novanto juga didenda sebesar Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Selanjutnya, Setya Novanto juga diwajibkan majelis hakim untuk membayar uang pengganti sebesar USD7,3 juta dikurangi uang yang telah dikembalikan Rp5 miliar subsider dua tahun kurungan. Kemudian, majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan hak politik Setya Novanto selama lima tahun.

Sedangkan, Setya Novanto dijebloskan ke lapas Sukamiskin sejak 4 Mei 2018 lalu. Bahkan, Setya Novanto sempat menyebut Lapas Sukamiskin sebagai salah satu tempat pembelajaran hidup.

“Di Sukamiskin, ini saya mulai dari kos, saya akan ke pesantren. Saya akan banyak belajar berdoa, berdoa, dan tentu saya jadi masyarakat biasa,” kata Setya Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 3 Mei 2018 lalu.

loading...