Andre-Rosiade
Andre Rosiade. (foto: google images)

JAKARTA, harianpijar.com – Partai Gerindra enggan jika sang Ketua Umum, Prabowo Subianto, disebut melakukan ‘umrah politik’. Menurut Partai Gerindra, justru Presiden Joko Widodo (Jokowi) lah yang pernah melakukan ‘umrah politik’.

“Kalau politik itu, supaya yang nyinyir ini, orang-orang pak Jokowi kan menyinyirkan. Yang berpolitik umrah itu Jokowi. Masa mereka lupa pas pilpres 2014. Ingat nggak insiden baju ihram terbalik itu, yang viral foto baju ihram terbalik itu. Itu kan pak Jokowi yang pergi umrah di saat pilpres. Kalau pak Prabowo kan pilpresnya masih tahun depan. Kenapa heboh?” ujar anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade seperti dilansir dari detik, Sabtu, 2 Juni 2018.

Menurut Andre Rosiade, saat ini Prabowo Subianto belum mendaftar sebagai capres di Pilpres 2019. Karena itu, dirinya membantah Prabowo Subianto melakukan ‘politisasi umrah’.

“Kalau dibilang kita ‘mempolitisasi umrah’, nggaklah. Kalau ‘umrah dipolitisasi’ itu lagi tahapan pemilu, tahapan pilpres pergi umrah lalu foto-foto untuk diviralkan supaya pencitraan untuk masyarakat. Itu yang namanya ‘politisasi umrah’. Itu yang dilakukan Pak Jokowi di Pilres 2014,” kata Andre Rosiade.

Lebih lanjut Andre Rosiade mengatakan pendukung Presiden Jokowi panik sampai-sampai mengomentari umrah yang dilakukan oleh Prabowo Subianto serta sejumlah tokoh lainnya. Salah satu pihak yang disebutnya terlalu nyinyir adalah Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin.

“Nggak perlu terlalu direwelin, dinyinyirin. Tapi kami memaklumi, kenapa pihak pendukung presiden, lalu Ngabalin juga terlalu nyinyir itu bang Ngabalin, karena panik. Jadi mereka nyinyir karena mereka panik,” tuturnya.

Sebelumnya, Ali Mochtar Ngabalin mengingatkan bahwa tidak baik ibadah diselingi membahas politik. Hal itu terkait rencana pertemuan antara Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan elite PKS yang akan bertemu dengan pimpinan FPI Rizieq Shihab di sela umrah.

“Nah saya lihat gini, saya mau bilang orang mau jalan ke haji dan umrah namanya dalam Quran itu, kalau orang mau jalan ke haji dan umrah menurut aturannya, telepon aja orang tidak boleh pakai di sana konsentrasi untuk ibadah umrah dan haji di sana,” ujar Ali Mochtar Ngabalin di kantor DPD Partai Golkar, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 1 Juni 2018.

“Jadi kalau nanti diumumkan bertemu dengan imam besar, itu imam besar kita Habib Rizieq untuk kepentingan politik praktis kurang bagus nanti di Tanah Air. Sebagai seorang muslim nanti tidak enak didengar oleh diketahui umat Protestan, Hindu, dan lain-lain. Dijaga itu semangat kebhinekaan itu maksud saya gitu, nggak ada pengertian lain,” imbuhnya. (ilfan/det)

loading...