Jenderal-Tito-Karnavian
. (foto: detik/Hilda Meilisa Rinanda)

SURABAYA, harianpijar.com – Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengungkap motif penyerangan yang dilakukan oleh sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Surabaya dan Sidoarjo.

Jenderal Tito Karnavian memulai dengan menjelaskan investigasi yang dilakukan Polda Jatim bersama Mabes Polri terkait tiga bom gereja di tiga titik di Surabaya.

“Dalam waktu singkat, kita sudah bisa mengungkap pelakunya satu keluarga atas nama Saudara Dita, berikut istri dan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yang terlibat dalam serangan itu. Kita sudah mengidentifikasi kelompoknya, yaitu JAD dari sel Surabaya dan kemarin saya sampaikan juga motifnya yang terkait dengan serangan ini karena adanya instruksi dari ISIS sentral karena mereka terdesak kemudian memerintahkan sel lainnya untuk bergerak,” kata Jenderal Tito Karnavian dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin, 14 Mei 2018.

“Kita tahu, selain serangan di Surabaya, juga ada serangan di Paris di hari Minggu yang lalu, pelakunya ditembak mati oleh polisi. Di tingkat lokal, saya menyampaikan diduga pembalasan dari kelompok JAD karena pemimpinnya, Aman Abdurrahman, yang ditahan dalam kasus pendanaan dan pelatihan paramiliter bersenjata di Aceh, kemudian yang bersangkutan divonis dan harusnya keluar bulan Agustus lalu kemudian ditangkap kembali karena diduga keras terkait dengan perencanaan, pendanaan, kasus bom Thamrin di Jakarta awal tahun 2016,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Jenderal Tito Karnavian mengatakan, kepemimpinan Aman Abdurrahman kemudian dialihkan ke Zaenal Anshori yang merupakan tokoh pimpinan JAD Jawa Timur.

Setelah itu, beberapa minggu kemudian, Zaenal Anshori ditangkap oleh Mabes Polri dalam kaitannya dengan pendanaan untuk memasukkan senjata api dari Filipina selatan ke Indonesia.

“Otomatis proses hukum yang bersangkutan dan itu membuat kelompok-kelompok jaringan JAD yang ada di Jawa Timur, termasuk yang ada di Surabaya ini, memanas dan ingin melakukan pembalasan,” ungkap Jenderal Tito Karnavian.

“Sehingga kembali saya tegaskan kerusuhan di Mako Brimob itu tidak sekadar masalah makanan yang tidak boleh masuk dari keluarga kepada para tahanan, tapi juga karena ada dinamika internasional tadi serta upaya untuk melakukan kekerasan pembalasan atas ditangkapnya pimpinan mereka,” sambung jenderal bintang empat itu.

Dita bersama istri dan empat anaknya yang beraksi mengebom tiga gereja di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018 kemarin adalah pimpinan JAD Surabaya.

Bom yang mereka gunakan berjenis TATP high explosive, alat peledak yang sama yang digunakan oleh pelaku bom di Mapolresta Surabaya pada Senin, 14 Mei 2018 pagi ini dan meledak di Rusunawa Wonocolo di hunian milik Anton dan keluarga di Sidoarjo.

“Pelaku Anton ini merupakan teman dekat Saudara Dita, pelaku bom bunuh diri di Gereja di Jl Arjuna. Mereka aktif berhubungan dan pernah berkunjung ke lapas napi terorisme tahun 2016,” jelas Jenderal Tito Karnavian.

Seperti diketahui, pada Senin pagi ini, terjadi lagi ledakan di Mapolresta Surabaya. Dua motor yang dikendarai lima orang dalam satu keluarga diledakkan di halaman Mapolresta Surabaya.

Dari kejadian itu, ayah, ibu, dan dua anak meninggal. Sedangkan satu anak lagi yang masih kecil selamat karena terlempar.

Tak hanya itu, empat polisi dan enam warga jadi korban luka-luka. Jenderal Tito Karnavian mengatakan aksi ini dilakukan kelompok yang sama.

Kemudian, Jenderal Tito Karnavian pun mengungkap alasan JAD sel Jawa Timur tersebut menyerang Surabaya dan Sidoarjo.

“Yang nanya kenapa aksinya di Surabaya, ya karena mereka menguasai daerah ini. Kenapa mereka melakukan ini, karena pimpinan mereka di Jawa Timur ditangkap, selain Aman Abdurrahman ditahan di Mako Brimob, juga karena instruksi dari ISIS sentral yang terdesak,” tuturnya. (nuch/det)

loading...