3-gereja-di-bom
Salah satu lokasi ledakan Bom di Surabaya, Jawa Timur, Minggu 13 Mei 2018.

JAKARTA, harianpijar.com – Pelaku aksi teror termasuk bermodus bom bunuh diri seperti insiden di Surabaya, Jawa Timur, Minggu 13 Mei 2018, meskipun tewas selayaknya tetap disidang. Hal ini disebut sebagai persidangan pascakematian pelaku atau posthumous trial, post-mortem trial.

Menurut Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, dirinya meminta pelaku aksi teror, termasuk bermodus bom bunuh, meskipun tewas tetap disidang. Karena, mekanisme progresif berupa post-mortem trial patut dikenakan atas kebiadaban pelaku kejahatan semacam itu. Karena, siapa pun tidak boleh mengajak anak melakukan kekerasan dan melakukan kekerasan terhadap anak.

Selanjutnya, posthumous trial adalah jalan agar pelaku secara pidana sah dan meyakinkan divonis bersalah.

“Lewat persidangan semacam itu, negara membuktikan bahwa kematian bukan merupakan jalan buntu untuk mengejar pertanggungjawaban pelaku,” kata Reza Indragiri Amriel, dalam keterangan tertulisnya, Minggu 13 Mei 2018.

Lebih lanjut, dijelaskan Reza Indragiri Amriel, karena yang bersangkutan atau pelaku menyertakan anak-anak dalam misi iblisnya serta menjatuhkan anak-anak sebagai korbannya, maka setidaknya Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak pun dapat diterapkan. Karena itu, dirinya meminta negara tetap memburu pelaku sampai ke liang lahat.

Sementara, dikatakan Reza Indragiri Amriel, kematian pelaku bukan gerbang bagi yang bersangkutan untuk menjadi martir, melainkan justru pintu baginya untuk dicap sebagai terpidana aksi teror. Bahkan, vonis bersalah yang dijatuhkan melalui posthumous trial juga bagian dari keadilan yang diidamkan para korban dan masyarakat. Selain itu, juga menjadi bukti bahwa negara berpihak pada korban.

“Selain itu, hukuman dan penghinadinaan atas diri pelaku oleh masyarakat bukan sebatas sanksi sosial, tetapi justru merupakan dendam yang terinstitusionalisasi secara legal,” tandas Reza Indragiri Amriel.

loading...