Fredrich-Yunadi
Fredrich Yunadi. (foto: Antara Foto/Elang Senja)

JAKARTA, harianpijar.com – Ahli Hukum dari Universitas Jenderal Soedirman, Noor Aziz, mengatakan seseorang yang minta dilakukan diagnosis tapi belum terjadi kecelakaan bisa dikenai tindak pidana. Perbuatan itu dinilai termasuk dalam kategori mens rea atau niat berbuat kejahatan.

Hal itu dirinya sampaikan saat bersaksi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, pada Selasa, 8 Mei 2018.

“Itu kan sudah jelas, wong kecelakaan belum terjadi dibilang kok bilang ada kecelakaan. Tercela apa atau nggak, hanya bapak KPK yang menilai itu tercela atau tidak itu majelis hakim,” kata Noor Aziz.

Untuk diketahui, Noor Aziz dihadirkan menjadi saksi ahli hukum pidana. Dirinya menilai mens rea mempunyai tujuan yang dimaksud pelaku. Karena, menurut Noor Aziz, di situ ada kepentingan sendiri atau orang lain.

“Kalau ada mens rea, pada umumnya ada sesuatu yang mau dituju. Apakah untuk kepentingan dia sendiri atau kepentingan orang lain, ada kepentingan di situ,” sebutnya.

Sedangkan soal motif, Noor Aziz mengatakan motif yang dilakukan pelaku bisa berbeda. Motif pelaku juga bisa disengaja atau tidak.

“Kalau motif bisa macam-macam, membicarakan yang bukan unsur hukum untuk apa, unsur hukum itu kalau hubungan batin antara pembuat dan pelakunya hanya ada dua, intens sama kulfa,” jelasnya.

Sebelumnya, Fredrich Yunadi disebut mendatangi RS Medika Permata Hijau sebelum Setya Novanto mengalami kecelakaan mobil. Dirinya meminta diagnosis hipertensi, tapi berubah diagnosa kecelakaan kepada dokter.

Fredrich Yunadi didakwa merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi e-KTP.

Mantan kuasa hukum Setya Novanto itu didakwa bekerja sama dengan dokter Bimanesh Sutarjo melakukan rekayasa agar Setya Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau untuk menghindari pemeriksaan penyidik KPK. (nuch/det)

loading...