sohibul-Iman
Presiden PKS Sohibul Iman. (foto: Dok. PKS Banten)

JAKARTA, harianpijar.com – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tak kunjung menentukan siapa calon wakil presiden (cawapres) sebagai pendampingnya di Pilres 2019 mendatang. Lain itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta Prabowo Subianto untuk memilih sembilan nama yang diajukan, sebelum bulan puasa ini.

Menurut Presiden PKS Sohibul Iman, batas waktu diberikan lantaran Prabowo Subianto tak kunjung menentukan siapa calon pendampingnya pada Pilpres mendatang.

“Kami dari PKS menyampaikan ke Pak Prabowo menurut hitungan kami itu idealnya (memutuskan nasib 9 cawapres PKS) sebelum bulan Ramadan,” kata Sohibul Iman, Rabu, 2 Mei 2018.

Sementara, menurut pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar, dirinya menilai kader PKS punya peluang besar dipinang Gerindra menjadi cawapres pendamping Prabowo Subianto pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Bahkan, pemberian tenggat waktu juga ditenggarai sebagai salah satu cara PKS menarik perhatian partai berlambang kepala burung garuda itu.

“Sejauh mana kemudian Gerindra aware dengan keinginan politik mereka mengusung salah satu kadernya sebagai calon wakil presiden Prabowo,” kata Idil Akbar kepada media, Jumat, 4 Mei 2018.

Ditegaskan Idil Akbar, dirinya juga menilai posisi cawapres menjadi harga mati bagi PKS agar koalisi dengan Gerindra bisa resmi terbangun dan dideklarasikan dalam waktu dekat. Bahkan, menurutnya PKS sudah mengalah tak dipilih kadernya pada Pilpres 2014 lalu.

Selanjutnya, Idil Akbar juga menjelaskan, sejauh ini PKS yang paling setia dan loyal dengan Gerindra sejak 2014 lalu, meski beberapa partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) saat itu perlahan merapat mendukung pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Karena posisi ini lah, membuat PKS bakal ngotot memperjuangkan kadernya dipilih Ketua Umum Partai Gerindra sebagai pendampingnya. Bahkan, partai yang berdiri pasca-reformasi itu ingin menyampaikan bahwa dirinya lah yang setia pada Gerindra.

“Dalam konteks itu saya membacanya bahwa hal ini oleh PKS, Gerindra itu harus merekrut mereka. PKS lah yang selama ini bersama Gerindra, mereka ingin mengatakan begitu,” tegas Idil Akbar.

Namun, menurut Idil Akbar, sembilan nama yang diajukan PKS tersebut, belum memiliki elektabilitas yang memadai. Karena itu, PKS juga harus menyadarinya.

Selain itu, Idil Akbar juga berpendapat dengan adanya fakta bahwa elektabilitas sembilan nama dari PKS yang tak cukup tinggi untuk melawan Jokowi, membuat Gerindra harus berpikir keras dan belum memutuskan untuk menggandeng salah satu kader Gerindra.

“Menurut saya di antara sembilan nama yang diusung PKS menjadi calon wakil presiden memang tidak satu pun memiliki elektabilitas yang cukup tinggi. Jadi memang agak susah. Prabowo maupun Gerindra akan melihat fakta politik yang ada,” ucap Idil Akbar.

Bahkan, menurut Idil Akbar, terlepas dari elektabilitas kadernya yang masih rendah, sasaran utama PKS adalah kursi calon wakil presiden pendamping Prabowo. Karena, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan kader PKS merupakan bentuk tekanan langsung agar Prabowo Subianto maupun Gerindra mengambil sikap.

“PKS tidak punya pilihan, kalau menyebrang ke Jokowi tentu mereka sama saja seperti menjilat ludah sendiri,” kata dia.

Namun, secara matematis jika koalisi Gerindra dan PKS terbentuk, kedua partai itu sudah cukup untuk mengusung capres dan cawapres sendiri. Gerindra memilik 73 kursi, sementara PKS 40 kursi di DPR. Jumlah kursi itu sudah melewati ambang batas presidential threshold untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. (cnn)

loading...