AHY-Jokowi
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). (foto: instagram/agusyudhoyono)

JAKARTA, harianpijar.com – Nama Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kembali masuk ke bursa cawapres sebagai pendamping Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019.

Terkait hal itu, Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai jalan AHY ke Pilpres 2019 tidak lah mudah.

Karena, menurutnya, pendamping Jokowi bergantung besar pada sikap politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Adi Prayitno mengatakan, suka tidak suka, Megawati Soekarnoputri adalah veto player atau bahkan satu-satunya yang menentukan cawapres dari Jokowi.

“Bisa dibilang, Jokowi adalah kader PDIP, petugas partai yang ketua umumnya adalah Megawati,” kata Adi Prayitno seperti dilansir dari Republika, Minggu, 6 Mei 2018.

Sedangkan untuk AHY dan Partai Demokrat, terdapat kendala psikologis yang cukup tebal. Sebagaimana diketahui hubungan Partai Demokrat dan PDIP sudah mengeras sejak lama.

Adi Prayitno berpandangan, perang dingin Partai Demokrat dan PDIP belum selesai, termasuk dari segi hubungan ketua umumnya, yakni Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sekalipun elektabilitas AHY saat ini tinggi, Adi Prayitno mengatakan belum tentu perjalanannya untuk menjadi pasangan Jokowi bisa lancar.

“Semua bergantung ke sikap politik Megawati. Kalau hubungannya masih ‘keruh’ dengan SBY, peluang AHY untuk maju mendampingi Jokowi akan sulit,” jelasnya.

Selain itu, batu sandungan lain yang harus dihadapi AHY adalah partai koalisi PDIP, di mana hampir semuanya menunjukkan resistensi, termasuk Partai Hanura dan PKB.

Hal ini dikarenakan AHY dan Partai Demokrat dinilai tidak pernah seiring sejalan dengan partai koalisi lain. Partai Demokrat kerap memilih jalur tengah atau jalur aman.

Seperti diketahui, dalam hasil survei lembaga Indikator Politik Indonesia (Indikator) sebelumnya, nama AHY menempati posisi teratas sebagai cawapres Jokowi di Pilpres 2019.

AHY memperoleh 16,3 persen suara dan melampaui Anies Baswedan, yang mendapat 13 persen suara. Nama lain yang juga muncul dalam survei itu adalah Gatot Nurmantyo dan Sri Mulyani. (nuch/rep)

loading...