Foto: Ilustrasi seorang anak bersama ibunya/Net.

Harianpijar.com – Kalimat yang mengatakan Engkaulah Muara Kasih tampaknya memang benar-benar pas buat seorang ibu yang telah berbuat semua untuk anak-anaknya. Menurut penulis kalimat tersebut sangat penuh arti. Bahkan, hal ini juga yang menjadikan inspirasi penulis untuk  mencoba bercerita tentang kalimat yang mengadung arti yang sangat dalam ini.

Pada tulisan ini penulis berpandangan bukan hanya kalimat nya saja yang cukup “SEJUK”. Namun, menurut penulis kalimat tersebut sangatlah tepat buat bahan “Renungan” kita semua. Kemudian, penulis akan mencoba bercerita sedikit kisah mengenai hal tersebut yang dialami oleh saudara kita yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan, saat ia mengenang betapa besar nya pengorbanan seorang “Ibu”. Karena itu, seorang Ibu dengan ikhlas memberikan apa yang dapat ia berikan kepada si buah hati tanpa pamrih, serta belaian kasih sayang juga tak lupa ia curahkan.

Awal cerita, ini adalah sebuah kisah, sebuah cerita, sebuah ungkapan dan curahan hati akan besarnya kasih sayang dari seorang ibu. Kasih sayang yang tulus tanpa mengharap balasan apa-apa. Karena itu, ibu nerupakan muara kasih, yang penuh cinta dan kasih sayang, tapi tidak jarang kita sebagai seorang anak melupakan hal itu, kita bukan membuatnya bangga tetapi malah membuatnya menangis begitu juga yang pernah dan sangat sering kita lakukan.

Seorang anak yang terakhir (bungsu-red) dari empat bersaudara yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan, merasa adalah anak yang paling beruntung karena mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayanginya, terutama ibunya.

Saat itu si bungsu baru berumur sekitar 9 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 SD, hari itu (lupa hari apa tepatnya-red), saat pulang cepat dari sekolah karena ada guru mau rapat, sibungsu pun langsung berencana untuk main dengan teman-temannya sepulang dari sekolah.

Namun, ketika sampai dirumah terlihat ibunya berdiri di teras, menunggu si bungsu yang sudah terlihat dari kejauhan. Ibunya pun menyambut si bungsu, mengajak si bungsu masuk dan mengganti pakaian, lalu menyuruh si bungsu untuk makan.

Tetapi, ajakan ibunya ditolak oleh si bungsu, karena si bungsu ingin cepat-cepat main dengan teman-temannya yang sudah menunggu. Ibu nya pun melarang, dan baru mengizinkan pergi setelah si bungsu makan. Si bungsu pun marah, langsung lari keluar rumah, dan ibunya pun  mengejar si bungsu sambil berteriak memanggil nama si bungsu dan si bungsu terus berlari dan tidak memperdulikannya.

Namun, tiba-tiba saat si bungsu sedang berlari menyeberang jalan, terdengar suara jeritan rem mobil, dan terlihat tubuh si bungsu dihantam oleh mobil, si bungsu pun pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Ketika si bungsu terbangun dari pingsannya, yang dirasakan sekujur tubuhnya terasa sakit dan ngilu, dan terlihat disamping tempat tidur si bungsu, ibu nya sedang menangis. Lalu ibu nya pun tersenyum melihat si bungsu sudah sadarkan diri.

Kemudian, ibu nya pun mencium si bungsu dengan lembut dan terlihat sayang sekali, lalu kemudian ibunya pun menangis kembali, lalu si bungsu pun bertanya,  “kenapa ibu menangis, apakah ibu marah kepada aku,” tanya si bungsu. Ibunya pun  menjawab, “Tidak sayang, ibu tidak marah, tapi ibu hanya sedih karena ibu tidak bisa menjaga kamu,” kata ibu si bungsu.

Mendengar jawaban ibu nya, si bungsu terdiam dan setelah kejadian itu si bungsu selalu berusaha untuk menuruti kata-kata ibunya. Sebab, si bungsu tidak mau melihat ibu nya mengais lagi.

Selanjutnya, hari pun berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, saat si bungsu sudah duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), si bungsu melakukan kesalahan  besar lagi. Karena terpengaruh dengan teman-temannya, si bungsu dan tiga orang teman nya mengeroyok seorang siswa lainnya sampai babak belur dan masuk rumah sakit.

Dengan kejadian itu pihak sekolah memanggil ibu si bungsu dan mengatakan kalau si bungsu dikeluarkan dari sekolah. Namun, tentu saja ibu nya berusaha dengan sekuat tenaga agar kepala sekolah bisa memberi keringanan. Tetapi Kepala Sekolah mengatakan itu adalah tuntutan dari orang tua siswa yang anaknya dikeroyok si bungsu.

Namun, ibu si bungsu pun tidak menyerah begitu saja, dengan memberanikan diri dan mempertaruhkan harga dirinya, ibu nya memohon kepada orang tua yang anaknya di keroyok si bungsu dan teman-temannya tadi untuk mencabut tuntutannya.

Karena melihat kesungguhan ibunya, akhirnya tuntutan itu pun dicabut dan si bungsu tidak dikeluarkan dari sekolah. Dengan kejadian itu, ibu nya tidak memperdulikan si bungsu, ibu nya pun tidak pernah mau menyapa si bungsu.

Tetapi saat ayah si bungsu pulang dari luar kota dan mendengar kejadian itu, ayah pun  langsung murka. Ayahnya pun langsung memukul si bungsu sampai si bungsu tidak bisa berbicara dan berdiri lagi. Tetapi, ketika ayah nya ingin memukul selanjutnya, tiba-tiba ibu nya berlari ke arah si bungsu dan memeluknya sambil menangis. Ibu nya memohon kapada ayah nya  untuk berhenti menghukum si bungsu.

Setelah memukuli si bungsu, lalu ayah nya  pun pergi, ibu menggendongku masuk ke kamar, diletakkannya si bungsu di atas tempat tidur dan diobatinya luka si bungsu. Si bungsu hanya bisa meringis sambil menangis, tapi tidak bisa bersuara. Terlihat ibunya pun menangis, deras sekali tangisannya dan dia juga tidak bersuara.

Ibu si bungsu juga mengusap semua semua luka-luka dan lalu menciumi si bungsu, dengan  terbata-terbata si bungsu berkata, “Ibu maafkan, ibu jangan menangis, apakah ibu marah pada ku,” kata si bungsu kepada ibu nya. Kemudian ibu nya pun menjawab, “Tidak nak,, ibu menangis bukan karena ibu marah, tapi karena ibu tidak bisa melindungimu,” jawab si ibu dengan hati yang pilu.

Mendengar ibu nya berkata seperti itu, si bungsu pun menangis lebih kencang dan memeluk ibunya dan dalam hatinya berjanji tidak akan membuat ibu menangis lagi.

Selanjutnya, waktu pun berganti, tidak terasa si bungsu sudah lulus SMA. Dalam kurun waktu itu, si bungsu sangat senang karena si bungsu tidak pernah lagi membuat ibu nya  menangis. Tetapi, tiba-tiba si bungsu harus pergi keluar kota untuk mengaduh nasib. Si bungsu pun pun berpamitan sebelum pergi, si bungsu memeluk ayah, kakak-kakak dan terakhir ibu nya.

Terlihat ibu nya menangis, tetapi terlihat sekali ibu mencoba menahan tangisannya sehingga yang terdengar hanya desahan-desahan kecil yang semakin terdengar pilu. Lalu si bungsu pun memeluk ibu nya, si bungsu pun mencium Ibu nya dan mengusap air matanya, sambil si bungsu bertanya, “Ibu, kenapa ibu menangis, apakah ibu tidak ingin aku pergi,” kata si bungsu bertanya.

Kemudian ibu nya  menjawab, “Tidak nak, ibu menangis bukan karena ibu tidak ingin kau pergi, tapi ibu menangis karna ibu tidak tau kapan kau akan pulang” jawab ibunya sambil menangis.

Hal tersebut, bagi si bungsu merupakan kesedihan yang teramat memilukan, si bungsu lalu menjawab, “Ibu jangan khawatir, aku akan segera kembali untuk ibu” ucap si bungsu dan lalu melangkahkan kaki, naik ke bus sambil melambaikan tangan dan mereka-mereka yang ditinggalkan pun juga melambaikan tangan, kecuali ibu yang hanya mematung dengan mata yang berurai air mata, tidak terasa air mata si bungsu pun jatuh.

“Si bungsu pun membayangkan akan pelukan ibunya, ciumannya dan kasih sayang nya, yang pasti akan sangat aku rindukan, Ibu aku akan kembali untuk mu,” kata si bungsu dalam hati.

Namun, tidak terasa setelah setahun bekerja diluar kota, si bungsu akhirnya memutuskan untuk pulang, menemui keluarganya dan yang pasti ibunya yang sudah sangat dirindukannya. Saat si bungsu tiba, terlihat mereka semua sudah menungguku di terminal, tampak terlihat ayah, kakak, dan ibu disana. Terlihat ibu nya pun tampak semakin tua dan si bungsu pun tiba-tiba membayangkan tangisannya.

Dalam hati si bungsu pun bertanya apakah ibu akan menangis, si bungsu pun turun dari bus dan langsung menemui mereka. Si bungsu terlihat memeluk ayah nya, kakak-kakaknya, dan yang terakhir si bungsu memeluk orang yang sangat dirindukan nya. Lalu si bungsu pun bertanya “Ibu, ibu tidak menangis, dan dilihat ibu nya tidak sama sekali menangis, terlihat ibu nya tersenyum melihat aku pulang,” kata si bungsu.

Namun, melihat itu tiba-tiba air mata si bungsu pun jatuh dan si bungsu menangis, ibu lalu mengusap air mata si bungsu dan bertanya, “Nak, mengapa kau menangis, apa kau tidak bahagia bertemu ibu,” ucap si ibu dengan nada lirih dan kemudian si bungsu pun menjawab lalu menjawab… “aku menangis bukan karena tidak bahagia menemui ibu, tapi aku menangis karena teringat betapa seringnya aku membuat ibu menangis,” ucap si bungsu sambil memeluk ibunya. Ibu aku mencintaimu, dan si bungsu pun berjanji tidak kan membuat ibunya menangis lagi, karna tangisan ibu adalah kesedihanku dan senyuman ibu adalah kebahagiaan ku. Semoga *** (Kiriman Pembaca dan editor Ellyus Zulkifli)

loading...