Terdakwa Kasus Korupsi E-KTP Setya Novanto.

JAKARTA, harianpijar.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berpandangan dalam persidangan korupsi e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pekan lalu, terdakwa Setya Novanto berupaya menyerang para elite PDIP.

Bahkan, upaya terdakwa korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) kepada elite PDI Perjuangan bukan merupakan hal yang baru.

Namun, tudingan-tudingan yang tidak berdasar Setya Novanto itu tidak terbukti. Lain itu, tudingan Setya Novanto langsung dibantah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

“Kami siap diaudit untuk membuktikan bahwa keterangan Bapak Setya Novanto tidak benar,” tegas Hasto Kristianto.

Sementara, Pramono Anung yang saat kejadian menjabat wakil ketua DPR bidang Industri dan Pembangunan juga ikut membantah semua keterangan terdakwa korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto.

“Saya siap dikonfrontasi dengan Novanto dengan siapa pun di mana pun,” tegas Pramono Anung selang beberapa saat kemudian.

Selanjutnya, juga ditegaskan Pramono Anung, jika Setya Novanto ingin mendapat status justice collaborator (JC) untuk meringankan hukuman, seharusnya tidak asal catut nama-nama.

Sementara, dalam persidangan Rabu 14 Maret 2018 lalu, Setya Novanto juga sempat bertanya pada saksi Made Oka Masagung apakah mengingat proses serah terima uang di kediamannya untuk diserahkan kepada dua anggota DPR.

“Pak Made Oka dan Andi pernah ke rumah saya akan menyerahkan uang kepada anggota dewan yakni dua orang yang sangat penting, apakah masih ingat, pak?” tanya Setnov. “Tidak ingat, saya tidak pernah kasih. Tidak ada,” jawab Made Oka saat itu.

Selanjutnya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo yang juga keponakan Setya Novanto, juga membantah pernyataan pamannya yang menyebut pemberian sejumlah uang kepada sejumlah anggota DPR.

Menurut Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dirinya hanya ingat bahwa Andi Narogong pernah menjanjikan paket pekerjaan terkait e-KTP yang tak pernah terealisasi.

“Yang saya ingat, saya tidak mendapatkan pekerjaannya. Kalau yang dibilang Andi meminta saya serahkan uang ke anggota dewan juga tidak pernah ada,” kata Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, di hari yang sama.

Namun, meski seluruh saksi membantah keterangannya, tetapo tidak membuat Setya Novanto patah arang. Dalam persidangan Kamis 22 Maret 2018 baru lalu, Setya Novanto sembari sesenggukan menyebutkan nama Puan Maharani dan Pramono Anung sebagai penerima dana e-KTP masing-masing USD 500 ribu.

“Waktu itu ada pertemuan di rumah saya yang dihadiri Oka dan Irvanto. (Uang) diberikan ke Puan 500 ribu dolar Amerika dan Pramono Anung 500 ribu dolar Amerika” kata Setya Novanto. (jpn)

loading...