Joko-Widodo
Presiden Joko Widodo (Jokowi). (foto: Biro Pers Kepresidenan)

JAKARTA, harianpijar.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pemerintah tidak anti pada kritik. Namun, harus dibedakan antara kritik dan mencela, apalagi yang nyinyir. Hal itu disampaikan Presiden Jokowi seusai membuka Rapimnas II Partai Perindo di Plenarry Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta kemarin.

Menurut Presiden Jokowi, perbedaan pendapat atau pilihan dalam demokrasi merupakan hal yang biasa. Tapi, harus tetap menjunjung tinggi sopan santun dan adat ketimuran dalam menyikapi perbedaan tersebut.

“Perbedaan pendapat dan pilihan itu biasa. Sekali lagi, itu biasa. Tapi harus junjung tinggi sopan santun dan adat ketimuran. Tidak saling hujat dan menebar ujaran kebencian,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengatakan kritik sangat penting bagi pemerintah. Karena, menurutnya, belum tentu semua hal yang dijalankan oleh pemerintah merupakan hal yang benar.

“Kalau ada salah, silakan sampaikan dengan kritik,” katanya.

Meskipun demikian, Presiden Jokowi menegaskan, kritik itu sifatnya berbeda dengan mencemooh, apalagi dengan sikap nyinyir.

“Tolong dibedakan kritik dengan mencela, kritik dengan mencemooh, itu beda. Kritik dengan nyinyir itu beda lagi. Kritik dengan memfitnah apalagi, beda. Kritik dengan menjelekkan itu juga beda. Sekali lagi, kritik itu penting untuk memperbaiki kebijakan yang ada,” jelas Presiden Jokowi.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mengatakan, kritik yang disampaikan juga harus didukung dengan data yang akurat. Menurutnya, kritik tidak boleh asal bunyi dan harus memberi solusi.

“Kritik harus berbasis data, kritik itu tidak ‘asbun’, asal bunyi, tidak asal bicara. Kritik itu maksudnya untuk mencari solusi, mencari kebijakan yang lebih baik,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, kita harus kembali ke akar budaya kita, budaya Timur, budaya Indonesia. “Kejujuran adalah utama, yang ditopang oleh perilaku sopan dan santun, sesuai adat istiadat,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengaku dirinya akan membuka kemungkinan dialog bagi siapa saja yang merasa ada yang kurang baik dari pemerintah. Dirinya menyebut kritik sangat diperlukan dalam mengelola negara karena harus ada yang mengawasinya dengan benar.

“Tentu saja kritik dengan sebuah data yang komplet, memberikan solusi, kemudian untuk sebuah perbaikan yang lebih baik,” katanya.

Untuk itu, Presiden Jokowi meminta, antara kritik dan mencemooh harus dibedakan. Dirinya berharap kritik yang disampaikan juga tidak menghujat.

“Ini tolong dibedakan, ini sudah saya sampaikan. Tolong bedakan kritik dengan mencemooh, kritik dengan menghujat beda, jangan disama-samain. Kritik dengan mencela beda, coba dilihat, beda. Jadi kita ini kadang-kadang nggak bisa membedakan mana yang kritik, mana yang mencela, fitnah, menghujat. Itulah yang harus dipelajari bersama-sama,” ucap Presiden Jokowi.

Namun, Presiden Jokowi tidak menyebutkan secara gamblang bahwa pesan ini untuk senior yang nyinyir. Dirinya juga tidak menyebut nama Amien Rais, yang sebelumnya menuding bagi-bagi sertifikat yang dilakukan Presiden Jokowi merupakan pembohongan.

“Ini ‘pengibulan’, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74 persen negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?” kata Amien Rais saat menjadi pembicara dalam diskusi di Bandung, Minggu, 18 Maret 2018 baru lalu. (det)