Joko-Widodo-Jokowi-dan-Prabowo-Subianto
Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. (foto: dok. Setkab)

JAKARTA, harianpijar.com – Pengamat politik dari Universitas Paramadina Toto Sugiarto menilai Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) sama-sama membutuhkan cawapres dari kalangan Islam pada Pilpres 2019 mendatang.

Pasalnya, baik Prabowo Subianto ataupun Jokowi dipersepsikan oleh publik sebagai tokoh dari kalangan nasionalis.

“Di persepsi publik, Prabowo itu sebagai tokoh nasionalis, sama dengan Jokowi. Ini artinya mereka harus mencari pendamping yang berlatar belakang Islam politik. Nah, ini ada di NU, Muhammadiyah, dan di PKS. Pilihannya di situ,” ujar Toto Sugiarto seperti dilansir dari Republika, Selasa, 20 Maret 2018.

Lebih lanjut Toto Sugiarto mengatakan, memilih cawapres dari kalangan Islam akan berdampak positif untuk meningkatkan dukungan massa.

Dirinya menilai basis massa yang berbeda tentu akan memberikan keuntungan bagi Prabowo Subianto maupun Jokowi.

“Ini memberikan nilai positif karena kolamnya berbeda dengan Prabowo maupun Jokowi. Dengan pola yang berbeda itu maka suaranya akan besar,” kata Toto Sugiarto.

Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika Jokowi memilih Puan Maharani sebagai cawapres. Sebab “kolam” massa yang dimiliki keduanya sama.

Toto Sugiarto mengatakan Jokowi sebaiknya memang mencari tokoh Islam sebagai cawapres agar bisa menambah basis dukungan massa.

“Jokowi kalau milih Puan itu tidak akan bijaksana karena kolam suaranya sama. Makanya, lebih baik Jokowi untuk juga mencari tokoh Islam. Saya kira mereka (Prabowo Subianto dan Jokowi) akan menyandingkan dirinya dengan tokoh Islam, kalau mereka pintar,” jelasnya.

Dalam kondisi seperti itu, menurut Toto Sugiarto, partai politik yang berbasiskan Islam akan mendapatkan perhatian utama demi mendongkrak dukungan massa.

Dengan mengambil tokoh dari partai Islam, pasangan calon akan lebih mudah menggerakkan mesin politik yang sudah ada untuk menaikkan elektabilitas. Dirinya menyebut hal ini lebih baik daripada menarik tokoh di luar partai politik.

“Mereka yang punya mesin politik solid akan lebih cepat mengenalkan orang itu ke masyarakat dan kemudian mencari simpati dari masyarakat, perhitungan politiknya di situ, dibanding misalnya dengan TGB (Tuan Guru Bajang-red) yang tidak punya mesin politik langsung. Jadi, itu kelebihannya,” tandas Toto Sugiarto.

Sementara itu, Partai Gerindra diketahui tengah menggodok lima belas nama kandidat yang akan menjadi cawapres untuk mendampingi Prabowo Subianto maju pada Pilpres 2019. (Rep)