Direktur Eksekutif LBH Pers Nawawi Bahrudin.

JAKARTA, harianpijar.com – Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Nawawi Bahrudin menilai karikatur di Majalah Tempo yang dinilai menghina pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab adalah bagian produk jurnalistik.

Menurut Direktur Eksekutif LBH Pers Nawawi Bahrudin, keberatan atas produk tersebut seharusnya dilakukan dengan menempuh jalur sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Seharusnya, jika salah satu pihak atau kelompok ada yang keberatan atau dirugikan dengan sebuah karya jurnalistik mekanismenya adalah menempuh jalur sengketa jurnalistik dengan memberikan hak jawab atau hak koreksi sebagaimana dalam Pasal 4 UU Pers,” kata Nahwawi Bahrudin dalam keterangan pers yang diterima, Jumat 16 Maret 2018.

Lebih lanjut, ditegaskan Nawawi Bahrudin, bagi pihak yang merasa keberatan dan dirugikan dapat mengadu ke Dewan Pers. “Atau mengadukan media atau karya jurnalistik tersebut kepada Dewan Pers,” tegas Nawawi Bahrudin.

Sementara, pernyataan Nawawi Bahrudin merupakan respons terhadap rencana Laskar Pembela Islam (LPI) yang merupakan sayap dari Front Pembela Islam (FPI) akan menggelar unjuk rasa di Kantor Majalah Tempo di kawasan Palmerah, Jakarta, hari ini 16 Maret 2018 usai salat Jumat.

Sedangkan, Laskar Pembela Islam (LPI) yang merupakan sayap dari Front Pembela Islam (FPI) menggelar aksi demo karena merasa Rizieq Shihab telah dilecehkan lewat karikatur yang dimuat di Majalah Tempo edisi 26 Februari -4 Maret 2018.

Selanjutnya, karikatur yang dimuat di halaman 10 Majalah Tempo tersebut menampilkan sosok pria mengenakan gamis dan surban putih duduk di sebuah kursi berhadapan dengan seorang wanita. Dalam dialognya, pria bersurban itu meminta maaf karena tidak jadi pulang. Sementara sang wanita membalasnya dengan menyebut apa yang dilakukan sang pria itu jahat.

Bahkan, lain itu karikatur tersebut juga seolah mengingatkan pembaca pada penggalan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC)  2 yang dirilis pada tahun lalu.

Selain itu, pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab sampai hari ini masih berada di Mekkah, Arab Saudi. Dirinya sempat berencana pulang pada Januari lalu, namun batal karena alasan tertentu.

Sementara, Komandan Laskar Pembela Islam (LPI) Maman Suryadi mengatakan, pihaknya berencana menduduki kantor Majalah Tempo jika pemimpin redaksi Majalah Tempo tidak mau menemui perwakilan peserta aksi untuk menjelaskan maksud karikatur tersebut.

“Kita duduki,” kata Maman Suryadi kepada media melalui pesan singkat, kemarin malam.

Sedangkan, LBH Pers disisi lain menyebut niat FPI yang ingin menduduki Kantor Majalah Tempo itu sebagai bentuk intimidasi yang tidak dibenarkan oleh hukum. Karena itu, LBH Pers meminta aparat penegak hukum bertindak dalam kerangka melindungi pers dan kemerdekaan pers.

“Demonstrasi adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi juga undang-undang. Namun dengan niat akan “menduduki”, memaksa untuk mengakui kesalahan, intervensi ruang redaksi dan berbagai bentuk intimidasi lainya adalah hal yang tidak dibenarkan oleh hukum,” tandas Nawawi Bahrudin.

SUMBERCNN Indonesia
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR