Ilustrasi Seorang Ibu/Foto.Net.

Harianpijar.com – Untaian kata-kata yang mengatakan “SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU” tampak  memang benar-benar ada dan nyata. Bahkan menurut penulis kata-kata tersebut tidak lapuk dimakan oleh zaman.

Hal ini pula yang menjadikan inspirasi penulis untuk  mencoba bercerita tentang kalimat atau kata-kata yang mengadung arti yang sangat dalam ini. Pada tulisan ini penulis berpendapat bukan hanya kata-kata nya saja yang cukup “INDAH”. Namun, menurut penulis kalimat atau kata-kata tersebut sangatlah tepat buat bahan “Renungan”  kita semua.

Para pembaca harianpijar.com, penulis akan mencoba bercerita sedikit kisah mengenai hal tersebut yang dialami oleh saudara kita, dimana saat dirinya mengenang betapa besarnya pengorbanan seorang “Ibu” mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui dan  bahkan membesarkannya.

Bahkan, seorang Ibu dengan ikhlas memberikan apa yang dapat dirinya berikan kepada si buah hati tanpa pamrih, serta belaian kasih sayang pun tidak lupa dia curahkan.

Para pembaca harianpijar.com yang tercinta, cerita dibawah ini bukan dibuat buat atau rekayasa penulis. Namun, ini benar terjadi pada umat manusia yang tinggal di bumi Allah ini.

Para pembaca harianpijar.com yang tercinta, berikut cerita yang akan penulis sampaikan, seorang ibu parubaya yang memiliki 3 orang anak. Anak sulungnya laki-laki dan 2 orang lain nya perempuan. Anak sulung si Ibu sudah dewasa dan bahkan sudah berumah tangga. Sedangkan kedua adik perempuan nya masih bersekolah.

Dalam kehidupan keluarga anak sulung si Ibu dapat dibilang sudah cukup mapan. Bahkan dengan keluarga kecil nya anak sulung si Ibu  memberikan kebahagian terhadap istri dan kedua orang anak nya yang masih balita.

Namun singkat cerita, saat itu sang Ibu datang bertamu kerumah anaknya yang sulung dan sudah berumah tangga dan berkecukupan. Mulanya, kedatangan sang Ibu selain melihat keluarga anak sulung nya yang bahagia dan mapan, memang ada keperluan yang sangat-sangat mendesak sekali.

Selanjutnya, sang Ibu dengan suara rendah dan disertai rasa malu berkata  “Nak, boleh Ibu meminjam uang mu Rp. 100  ribu. Ibu ada keperluan untuk membeli beras,” kata sang Ibu memilukan. Memang dalam hal ini memang si Ibu keadaannya sangat mendesak sekali.

Namun, anak sulung si Ibu yang sudah dapat dibilang berkecukupan tidak langsung memberikan jawaban.  Dengan raut muka datar anak sulung si Ibu berkata  “Nanti aku tanya istriku dulu,”  jawab anak sulung si Ibu,  seakan-akan  berat untuk mengiyakan karna belum tentu istrinya juga mengiyakan.

Kemudian, berselang beberapa menit kemudian anak sulung si Ibu masuk kedalam ruangan rumah nya. Terlihat oleh anak sulung si Ibu dus susu anak balita nya yang masih ada tarif harga sebesar Rp. 50 ribu, anak sulung si Ibu pun merenung melihat dus susu tersebut.

Selanjutnya, anak sulung si Ibu menghitung berapa biaya yang dirinya harus keluarkan untuk membeli susu kedua anaknya yang masih balita tersebut. Bila dalam 1 hari kedua anak balita nya menghabiskan 1 dus susu, kalau dikalikan 30 hari dan dikalikan selama 2 tahun berapa total biaya untuk membeli susu tersebut.

Sementara, dalam pikiran anak sulung si Ibu, betapa besar nya pengorbanan seorang Ibu yang telah memberikan ASI yang tidak terhingga harganya dan super steril diberikan selama 2 tahun dan dengan curahan kasih sayang. Bahkan, si Ibu pun tidak meminta harus dibayar.

Namun, tidak begitu lama kemudian anak sulung si Ibu pun berbalik dan menatap wajah Ibu nya yang teduh walau telah dimakan usia dan sambil berkata “Ibu kau telah memberikan kasih sayang, harta semuanya tanpa pamrih, pada ku secara gratis. Maafkan anak mu yang durhaka ini yang tidak tahu balas budi, sambil memeluk dan mengecup kening Ibu nya.

Ibu jangan berkata pinjam lagi, harta ku adalah milik Ibu juga. Do’akan anakmu ini agar selalu berbakti pada mu sambil memberikan uang Rp. 3 juta kepada Ibu nya”.

Dengan mata yang berkaca-kaca terlihat ada air bening di pelupuk mata si Ibu dan si Ibu pun seraya berkata “Nak, disetiap keadaan Ibu selalu berdo’a agar kita semua selalu dikumpulkan di dunia dan di SURGA nanti dalam kebahagiaan”. Semoga (Kiriman pembaca dan diedit oleh Ellyus Zulkifli).