ulama-suriah-mui-1
Ulama Suriah Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf yang juga rektor Universitas Negeri Syam bersama KH Muhyiddin Junaidi Ketua Bidang Hubungan Internasional MUI.

JAKARTA, harianpijar.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) diminta oleh Ulama Suriah dapat membendung kabar hoax dan meneliti lembaga donasi yang mengaku akan menyalurkan dana ke Suriah.

“Donasi kepada lembaga yang tidak kredibel hanya akan membahayakan rakyat Suriah,” kata Ulama Suriah Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf, dalam lawatannya ke kantor pusat MUI di Jakarta, Jumat, 9 Maret 2018.

Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf berada di Indonesia dalam rangka menghadiri Silaturahmi Nasional Al Syami Indonesia ke-6 yang digelar Ikatan Alumni Al-Syami (Asyami), dirinya mengapresiasi keberadaan MUI dalam menyatukan umat Islam Indonesia, di saat banyak muslim di negara lain yang terpecah belah dan mudah diadu domba.

Dalam lawatannya ke Indoensia ini, Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf diterima oleh KH Muhyiddin Junaidi ketua bidang hubungan internasional MUI.

Perkenalan pun langsung berjalan cair karena Muhyiddin Junaidi adalah alumni Kulliyah Dakwah Libya, dan Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf sampai sekarang adalah rektor Mujamma’ Ahmad Kuftaro yang membawahi Kulliyah Dakwah cabang Damaskus.

Selain itu, Muhyiddin Junaidi juga pernah ke Suriah tiga kali dan bertemu dengan pendiri Mujamma’ mendiang Syeikh Ahmad Kuftaro.

Selanjutnya, Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf juga bercerita bahwa di negaranya juga ada lembaga sejenis, bernama Ittihad Ulama Bilad al-Syam. “Sayang, pembentukannya agak terlambat, karena sudah menjelang krisis,” ujarnya.

Namun, menurut Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf, problem umat Islam dunia saat ini adalah adu domba antar ormas, sekte, dan pembenturan antara umat Islam dengan pemerintahannya, dengan propaganda pemerintah yang tidak syar’i ataupun toghut atau tidak sesuai dengan ajaran agama.

“Padahal di negara tersebut mereka terang menikmati kebebasan beribadah dan presidennya muslim. Bukankah Nabi pernah hidup di Mekkah di bawah pemerintahan kafir, dan beliau menjadi warga yang taat,” ucap Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf, seperti dalam rilis Asyami yang diterima media.

Dalam kesempatan tersebut, Muhyiddin Junaidi menanyakan tentang apa yang bisa dibantu oleh Indonesia untuk Suriah. Bahkan, saat itulah Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf mengharapkan agar MUI dapat membendung berita hoax tentang Suriah dan meneliti lembaga donasi yang mengaku akan menyalurkan ke Suriah.

Karena, menurutnya, kabar hoax menyebarkan fitnah dan propaganda yang memperkeruh suasana Suriah. Adapun asal memberikan donasi mengatasnamakan Suriah bisa berdampak amat berbahaya, karena selama ini banyak donasi yang justru disalurkan kepada pemberontak untuk membeli senjata yang akan terus digunakan ‘membakar’ Suriah.

Namun, saat ditanya terkait bantuan ke Ghouta, Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf menjelaskan bahwa saat ini tidak ada jalan untuk memasukkan bantuan ke Ghouta. Bahkan, menurutnya terowongan bawah tanah (nafaq) yang biasa digunakan sudah tidak berfungsi.

Satu-satunya lembaga kemanusiaan yang bisa masuk ke Ghouta adalah Hilal Ahmar Internasional (Bulan Sabit Merah). Menurut Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf, itu juga sangat sulit, karena sudah 100 relawan Hilal Ahmar Internasional yang meninggal dunia saat menyalurkan bantuan akibat terkena tembakan dari sniper.

“Bahkan untuk mengeluarkan warga di Ghouta ke Damaskus pun hampir tidak mungkin,” kata Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf. Padahal jarak kota itu ke Ibu Kota Damaskus seperti jarak antara Jakarta dan Bekasi.

Sementara, sebelum mengakhiri kunjungan, Muhyiddin Junaidi menyampaikan rencananya untuk mengundang Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf pada konferensi internasional yang akan dihadiri presiden dan 50 ulama dunia, tentang Islam moderat, pada bulan Mei di Bogor, untuk bercerita tentang kondisi di Suriah yang sebenarnya.

Mendengar undangan tersebut, Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf balik mengundang MUI untuk datang ke Suriah. “Anda harus melihat Suriah secara langsung, sebelum menyelenggarakan acara yang akan membahas Suriah,” tuturnya.

Pertemuan itu berlangsung sekitar selama satu jam, dan diakhiri dengan saling bertukar cinderamata, Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf memberikan Jubah Khas Suriah untuk Muhyiddin Junaidi, dan Muhyiddin Junaidi memberi cinderamata MUI kepada Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf.

Namun, sebelum melepas Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf, Muhyiddin Junaidi menyatakan, “Kunjungan Anda ke Indonesia menunjukkan keseriusan untuk bekerjasama, dan kunjungan Anda kesini juga menunjukkan bahwa Suriah semakin membaik.”

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asyami, M Najih Arromadloni, mengatakan Syeikh Syarif Adnan Al-Sawwaf sedianya juga ingin berkunjung ke Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, namun karena waktunya tidak mencukupi rencana itu tidak dapat diwujudkan. (cnn)

loading...