Lukman-Hakim-Saifuddin
Lukman Hakim Saifuddin. (foto: Media Indonesia)

JAKARTA, harianpijar.com – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin akhirnya angkat bicara soal larangan penggunaan cadar bagi mahasisiwi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta.

Menurutnya, pelarangan yang dilakukan UIN Suka merupakan alasan akademik dan administratif. Pasalnya, ada beberapa ketentuan tata terbit yang berlaku di perguruan tinggi.

“Bukan karena alasan teologis atau agama, fikih, atau lainnya. Karena yang dikeluhkan oleh rektor, dosen kalau orang yang tertutup seluruhnya hanya matanya saja nampak ketika akan ujian-ujian sulit, apakah ini yang ikut ujian mahasiswa yang terdaftar atau jangan-jangan ‘joki’,” kata Lukman Hakim Saifuddin seusai acara “Sosialisasi Program Pencegahan Korupsi”.

Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, penggunaan cadar dalam Islam merupakan wujud pengalaman keyakinan agama. Menurutnya, hal itu lah yang harus dihormati oleh sesama umat beragama.

“Yang mengatakan bukan bagian pengalaman agama masing-masing harus membangun toleransi yang tinggi, saling menghargai dan tidak boleh saling memaksakan. Jadi, ini pandangan yang sangat beragam,” ujar Lukman Hakim Saifuddin.

Lebih lanjut Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, sikap yang diambil UIN Suka bukan dari sudut pandang ini, melainkan bentuk mekanisme program akademik yang harus dilakukan secara terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Itu kewenangan penuh program tinggi keagamaan. Itu otonomi kampus,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor UIN Suka Sahiron Syamsuddin sebelumnya mengatakan, kebijakan pelarangan cadar tersebut tidak terlepas dari alasan pedagogis.

Karena, menurutnya, jika mahasiswi tetap menggunakan cadar di dalam kelas, para dosen tentu tidak bisa membimbingnya dengan baik dan tidak dapat mengenali wajah mahasiswinya.

“Kalau di kelas mereka pakai cadar, kan dosen tidak bisa menilai apakah yang datang di kelas itu memang mahasiswa atau bukan,” kata Sahiron Syamsuddin saat dikonfirmasi, Selasa, 6 Maret 2018.

Sahiron Syamsuddin mengatakan, penggunaan cadar bagi kaum wanita sebenarnya juga masih jadi perdebatan di kalangan ulama, apakah cadar merupakan ajaran Islam atau hanya tradisi Arab. Namun, mahasiswi yang becadar di kampus UIN Suka sebagian besar tidak membaur dengan mahasiswa lainnya.

“Mereka pada umumnya tidak membaur dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain,” tandasnya.

Menurut Sahiron Syamsuddin, rata-rata seluruh dosen UIN Suka setuju kebijakan pelarangan cadar ini diberlakukan. Bahkan, jika ada mahasiswa yang tidak ingin dibina, mahasiswa tersebut akan diminta untuk pindah kampus.

“Sebagian besar (dosen UIN Sunan Kalijaga) setuju. Tapi, ya mungkin ada juga sedikit yang tidak setuju,” ucap Sahiron Syamsuddin. (nuch/rep)

BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR