Priyo-Budi-Santoso
Priyo Budi Santoso. (foto: ANT/Hafidz Mubarak)

JAKARTA, harianpijar.com – Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) mengatakan sedikitnya ada tiga skenario politik yang mungkin terjadi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Menurut Wakil Ketua ICMI se-Indonesia Bidang Politik Dalam Negeri, Priyo Budi Santoso, skenario pertama adalah adu kekuatan antara dua calon yakni petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Hal ini adalah skenario yang cukup berbahaya bagi demokrasi.

“Ini agak beresiko terhadap demokrasi. Yang terjadi adalah mengulang pertarungan pilpres sebelumnya,” kata Priyo Budi Santoso.

Lebih lanjut Priyo Budi Santoso mengatakan, skenario politik kedua yang bisa terjadi munculnya poros ketiga, yang kemungkinan besar datangnya dari Partai Demokrat. Bahkan, menurutnya skenario ini akan berdampak baik terhadap demokrasi.

“MK sudah memutuskan dan Undang-Undang memungkinkan itu, sehingga kemudian poros itu muncul dimotori oleh Demokrat, PKB, dan PAN,” jelasnya.

Selanjutnya, menurut Priyo Budi Santoso, masih terdapat satu skenario lagi yang bisa terjadi meskipun kemungkinannya kecil terjadi, yaitu hanya ada calon tunggal di Pilpres 2019.

“Siapa tahu kalau mungkin pak Jokowi dan pak Prabowo duduk satu meja, jadilah mereka berdua,” ujar Priyo Budi Santoso.

Sementara itu, menurut pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris, terbentuknya poros ketiga di Pilpres 2019 mendatang sangat bergantung pada sosok Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kemampuan partai politik memenuhi ambang batas pencalonan presiden.

Diketahui, ambang batas presiden ditetapkan 20 persen dari total kursi di parlemen. Karena itu, sebuah partai atau gabungan partai harus menguasai 20 persen dari total kursi DPR untuk bisa mengusung calon presiden.

Sedangkan, Partai Demokrat saat ini hanya memiliki kursi sekitar 10 persen di DPR sehingga untuk membentuk poros ketiga, Partai Demokrat harus terlebih dulu berkoalisi dengan partai lain.

“Peluang ada, tapi sangat kecil,” kata Syamsuddin Haris saat acara diskusi di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu, 7 Maret 2018. (cnn)

loading...