Brigjen-Mohammad-Iqbal
Brigjen Mohammad Iqbal. (foto: Jurnal123/Vecky Ngelo)

JAKARTA, harianpijar.com – Bareskrim Polri belum lama ini telah mengungkap isu penyerangan ulama yang terjadi selama bulan Februari lalu yang dilakukan oleh kelompok mantan anggota Saracen dan kelompok Muslim Cyber Army (MCA).

Untuk diketahui, dari 45 kasus yang terdata Satgas Nusantara Polri, hanya tiga kasus yang benar terjadi dan sisanya adalah hoax.

Terkait hal itu Polri memperingatkan kepada para penyebar hoax, ujaran kebencian dan isu SARA untuk berhenti melakukan kegiatan mereka. Karena, menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal, pihaknya melakukan patroli siber selama 24 jam.

“Tim terus bekerja, jangan coba-coba untuk memutarbalikkan fakta untuk kepentingan pribadi, golongan, mempengaruhi pikiran masyarakat sehingga nanti ujungnya memecah belah bangsa untuk harkamtibmas (pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat). Kami melakukan patroli siber 24 jam,” tegas Brigjen Mohammad Iqbal di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 6 Maret 2018.

Lebih lanjut Brigjen Mohammad Iqbal mengatakan, kerja tim siber semakin hari semakin ditingkatkan untuk memberantas pelaku ujaran kebencian, hoax dan isu SARA di media sosial. Hal itu dikarenakan Indonesia sudah mulai memasuki tahun politik Pilkada 2018, Pilpres dan Pileg 2019.

Apalagi, menurutnya, saat ini suhu politik sudah mulai panas, karena itu Polri perlu bekerja untuk mendinginkan situasi.

“Kontestasi pilkada sudah mulai panas. Kami sangat perlu menginisiasi penegakan hukum karena itu salah satu cooling system. Supaya ada deterrent effect dan masyarakat tahu ‘oh ini berita tidak benar’,” kata Brigjen Mohammad Iqbal. (nuch/det)

loading...