Yandri-Susanto
Ketua DPP PAN Yandri Susanto. (foto: Kompas.com)

JAKARTA, harianpijar.com – Partai Amanat Nasional (PAN) mengirim sinyal kemungkinan tidak akan merapat dan memberi dukungan pada Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 mendatang. Pasalnya, PAN tidak ingin Jokowi menjadi calon tunggal di Pilpres.

“Kecenderungan kuat kita insyaallah di luar pak Jokowi, kecenderungan kuat ya. Karena tadi, kita juga tidak mau calon tunggal. Kalau semua bergabung ke pak Jokowi ya bisa calon tunggal,” kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto saat dikonfirmasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Maret 2018.

Menurut Yandri Susanto, PAN sebenarnya tidak masalah dengan Jokowi, PDIP atau partai pendukung lainnya. Namun, PAN mengakui jika bergabung mendukung Jokowi akan membuatnya menjadi calon tunggal.

Lebih lanjut, ditegaskan Yandri Susanto, PAN menginginkan ada calon alternatif di Pilpres 2019 mendatang. Namun, keputusan mendukung calon presiden akan diputuskan melalui forum rakernas dan rapimnas.

“Nah sampai hari ini kecenderungan kuat itu di atas 80 persen. Kita ingin hadirkan calon alternatif. Bukan karena benci Pak Jokowi, kalau calon tunggal malah enggak elok,” ujar Yandri Susanto.

Selain itu, Yandri Susanto mengatakan, sejauh ini PAN masih melakukan penjajakan koalisi dengan Partai Gerindra. PAN dan Partai Gerindra saja sudah memenuhi syarat ambang batas pencalonan Presiden 20 persen. Nama yang kemungkinan akan diusung adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“PAN sama Gerindra saja sudah cukup. Lebih malah, 9 kursi lebihnya. Artinya kami mau dengan Gerindra saja bisa juga, yang lain buat poros baru, atau nanti dengan Gerindra siapa yang lain dengan poros baru,” jelasnya.

“Nah ini masih dalam penjajakan, komunikasi yang intensif karena memang waktunya terbatas 4 Agustus sudah perlu mendaftar,” imbuh Yandri Susanto.

Yandri Susanto mengatakan, ini tidak menutup kemungkinan akan melahirkan poros baru di luar pendukung Jokowi dan Prabowo Subianto. PAN masih menimbang akan bergabung dengan Partai Gerindra atau membuat poros baru. Lain itu, poros baru bisa dibentuk dari komposisi tiga partai yang belum menentukan arah dukungan politik, yakni PKB, Partai Demokrat dan PKS.

Ketiga poros itu diantaranya poros pendukung Prabowo Subianto yang diisi oleh Partai Gerindra dan PAN. Kemudian, poros pendukung Jokowi yang diisi PDIP, Partai Golkar, Partai NasDem, Partai Hanura dan PPP. Serta poros PKB, PKS dan Partai Demokrat.

“Nah hari ini belum ada yang terjawab. Tapi kalau PAN insyaallah bisa membangun poros baru atau PAN dan Gerindra seperti saya bilang tadi, sudah cukup,” kata Yandri Susanto.

Sementara itu, menurut Yandri Susanto, ada sejumlah sosok alternatif di luar Jokowi dan Prabowo Subianto yang layak dipertimbangkan menjadi capres. Mereka adalah mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Banyak sih, kan ada Pak Gatot, Anies, Muhaimin, Bang Zul, AHY. Tinggal formatnya gimana nanti,” tandasnya. (Mer)

BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR