ilustrasi-ayah
Ilustrasi. (foto: Dok. all4desktop)

harianpijar.com – Yang terhormat para pembaca harianpijar.com yang penulis cintai. Kali ini penulis mencoba menulis arti tentang kerinduan kita terhadap sosok seorang ayah dimata kita sebagai anaknya. Tulisan yang penulis akan sajikan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.

Namun, penulis berharap tulisan ini dapat menjadi sebuah “renungan” disaat kita sedang merindukan sosok seorang ayah, serta mengingatkan apa yang telah kita perbuat terhadap orang tua terutama kepada ayah tercinta. Tulisan ini yang penulis beri judul “Rindu Akan Sosok Seorang Ayah” dan semoga tulisan ini ada manfaatnya buat kita semua.

Berikut tulisan yang penulis sajikan dan selamat membaca.

Orang tua adalah mereka yang sangat berjasa di dalam hidup kita. Jika seorang ibu adalah orang yang pertama harus paling kita hormati maka sosok seorang ayah adalah orang kedua yang harus paling kita hormati lebih dari siapapun di muka bumi ini.

Karena itu, hendaknya kita selalu mendoakan kedua orang tua kita, serta berbuat baik kepada keduanya. Seorang ayah adalah orang yang selalu mengkhawatirkan kita, memenuhi kebutuhan kita dan mengajari kita dengan kewibawaannya.

Masihkah kita ingat ketika kita sekolah, berbagai kebutuhan kita bermunculan, seperti membeli sepatu, seragam, peralatan tulis, tas baru setiap kenaikan kelas, belum lagi uang saku setiap harinya dan masih banyak lagi.

Tahukah kita saat disampaikan bahwa telah tiba tagihan uang semester dari sekolah, ayah kita adalah dia yang senantiasa mengerutkan keningnya untuk mencari solusi “Bagaimana agar anaknya bisa segera membayar tunggakan sekolahnya serta bisa mengikuti semesteran dengan yang lain”.

Pernahkah kita renungkan ini sebelumnya, sudahkah kita ucapkan rasa terimakasih kepadanya walau sekali saja seumur hidup kita?.

Mungkin, diantara kita ada yang pernah meminta boneka, minta dibelikan mainan yang sangat kita sukai, ingin memiliki handphone agar sama dengan yang lain, ingin ini dan itu yang kian menggunung.

Ketika ayah kita tak bisa memenuhinya, tahukah kita apa yang sebenarnya ada dalam hatinya? Dirinya merasa seakan menjadi seorang ayah yang gagal membuat anaknya tersenyum dan bahagia.

Semua itu bukan karena dirinya tidak menyayangi kita, akan tetapi terkadang sikap ketidakpahaman kita sehingga membuat kita membencinya. Pernahkah kita merenungkannya?.

Mungkin hanya disaat kita jauh atau bahkan tatkala dirinya telah tiada, barulah kita tersadar bahwa kita sangat “rindu” ayah kita tercinta.

Tahukah kita siapa yang senantiasa menghawatirkan kita saat kita terjatuh sakit. Kadang saking khawatirnya sampai dirinya membentak anaknya dan berkata “Sudah dibilang jangan minum air dingin!”, “Sudah dibilang jangan telat makan!, Begini kan jadinya!” dan lain sebagainya.

Perkataan-perkataan tersebut bukan hanya meluapan amarahnya yang ingin dirinya lontarkan kepada kita, tapi jauh lebih dalam dilubuk hatinya, dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan kita.

Mungkin diantara kita ada yang telah menempuh berbagai jenjang pendidikan yang tinggi, atau membuka usaha besar dan pekerjaan yang mapan. Namun, saat kita telah mencapai kesuksesan, Ayah adalah orang yang pertama kali bangga. Mungkin tidak pernah kita dengar keluar dari mulutnya kata-kata “Selamat ya Nak!”, “Ayah bangga dengan keberhasilan kamu!”, tapi tahukah kita, dirinya sangat bangga memiliki anak seperti kita.

Kebanggaan lain dari seorang ayah adalah ketika melihat anak-anaknya mulai menaiki panggung pelaminan.

Tahukah kita apa yang ada dalam hati ayah kita tercinta saat melihat kita memulai pernikahan kita? Mungkin dirinya akan berkata “Tugasku telah selesai dengan baik, Putra-putri kecil ku yang dahulu lucu, kini ia telah dewasa dan mampu hidup mandiri tanpa kehadiranku”.

Pernahkah kita merenungkannya? Kita akan merasa rindu kepada ayah kita saat dirinya jauh dari kita atau tatkala dirinya telah tiada?.

Ayah kita adalah dirinya yang senantiasa berusaha terlihat kuat bahkan ketika dirinya tidak kuasa untuk tidak menangis di depan anak-anakanya. Dirinya adalah yang harus selalu terlihat tegas bahkan disaat dirinya ingin memanjakan kita.

Ayah adalah dirinya yang pertama harus meyakinkan anak-anaknya termasuk kita bahwa “kita bisa” dalam hal apapun.

Bagi kita yang merasa masih memiliki sosok seroang ayah, jauh atau dekatnya dirinya dan bahkan pernah merasakan hidup bersamanya dalam hidup kita, adalah sebuah anugerah yang seharusnya kita syukuri dan merupakan salah satu alasan besar untuk kita senantiasa tersenyum atas hal ini.

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa berbakti kepada ayah dan ibu kita. Jika salah satu atau keduanya telah tiada, maka hendaknya kita senantiasa mendoakan keduanya atau dengan jalan sedekah yang bisa kita tujukan untuk kedua orang tua kita. Beginilah sekiranya, obat untuk kita yang merasa rindu ayah kita tercinta! (Kiriman Pembaca/editor Ellyus  Zulkifli).

loading...