Romahurmuziy
Muhammad Romahurmuziy. (foto: Kompas)

JAKARTA, harianpijar.com – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy (Romy) mangatakan pihaknya telah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kekerasan terhadap pemuka agama di sejumlah daerah.

Menurut Romy, dibentuknya tim investigasi ini untuk memastikan motif di balik kekerasan tersebut.

“Kami PPP tengah membentuk tim untuk melakukan investigasi asal muasal dan sebab atas kejadian ini,” kata Romy dalam keterangan tertulis, Senin, 12 Februari 2018.

Lebih lanjut, dijelaskan Romy, dugaan sementara kekerasan terhadap sejumlah pemuka agama dilakukan secara sistematis. Karena itu, dirinya tidak yakin kekerasan murni dilakukan orang dengan masalah kejiwaan sebagaimana keterangan sementara Kepolisian.

“Ini bisa jadi bukan sekadar fenomena orang gila beneran, akan tetapi orang gila buatan,” jelas Romy.

Selanjutnya, Romy juga menegaskan, diduga kekerasan terhadap pemuka agama untuk mengganggu stabilitas keamanan jelang pelaksanaan pilkada 2018 dan untuk kepentingan pilpres 2019.

Karena, dengan tidak stabilnya situasi keamanan, masyarakat tengah digiring untuk membangun opini mencari pemimpin baru yang dapat mengatasi masalah tersebut.

“Masyarakat didorong dikondisikan untuk merasakan bahwa oh ternyata kita butuh pemimpin yang kuat. Kita butuh pemimpin dari yang memiliki latar belakang tertentu yang diharapkan bisa mengatasi semua kegaduhan dan instabilitas yang muncul,” tegasnya.

Namun, dikatakan Romy, disisi lain, kekerasan terhadap pemuka agama saat ini sama dengan yang terjadi di zaman pemerintahan Presiden Soeharto. Tetapi, saat itu Soeharto sengaja menyasar ulama sebagai korban agar masyarakat tetap meminta dirinya sebagai presiden.

“Seolah-olah ada distabilitas pada skala masif, bahkan yang menjadi korban adalah para ulama. Sehingga tetap dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki latar belakang kuat seperti Soeharto,” ucap Romy.

Karena itu, dirinya berharap Kepolisian dan Badan Intelijen Negara melakukan pengawasan melekat terhadap seluruh komponen bangsa agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Seperti diketahui, belakangan ini kekerasan terhadap pemuka agama marak terjadi, bahkan menyebabkan korban jiwa.

Sedangkan, kekerasan pertama menimpa pimpinan Pesantren Alhidayah KH Umar Basri di Cicalengka, Kabupaten Bandung pada 27 Januari lalu. Akibat kekerasan yang diguga dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa itu, Basri mengalami luka serius di bagian wajah dan beberapa bagian tubuhnya.

Selanjutnya, serangan terhadap pengurus Persis Ustaz Prawoto pada 1 Februari 2018. Serangan juga diduga dilakukan orang gangguang jiwa membuat Prawoto meregang nyawa.

Sedangkan pada 7 Februari lalu, kekerasa terjadi terhadap seorang biksu dipersekusi di Kabupaten Tangerang oleh warga.

Terakhir, juga ada teror terhadap jemaah gereja Bedog, Jogja. Akibat teror itu, sejumlah jemaat termasuk pendeta mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam. Tak hanya itu, fasilitas gereja juga dirusak oleh pelaku.

SUMBERCNNindonesia
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR