Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.

JAKARTA, harianpijar.com – ‎Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP), Senin 12 Februari kemarin, mengungkapkan mengenai catatan keuangan Fraksi Demokrat. Lain itu, catatan keuangan tersebut berisi laporan keuangan keluar masuk di masa Muhammad Nazaruddin menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat.

Sementara, saksi yang dihadirkan untuk menggali keuangan Muhammad Nazaruddin adalah mantan Sekretaris pribadinya, yakni Eva Ompita Soraya.

Menurut Eva Ompita Soraya, dirinya benar adalah mantan Sekretaris pribadi Muhammad Nazaruddin dan membuat pembukuannya.

“Saya sekretaris pribadinya, karena beliau juga bendahara fraksi jadi saya ikut bantu soal iuran anggota, kegiatan fraksi sampai kelola keuangan Pak Nazaruddin,” kata Eva Ompita Soraya dihadapan majelis hakim, di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Lebih lanjut, Eva Ompita Soraya menjelaskan, setiap bulannya ada potongan Rp 5 juta dari ratusan anggota Partai Demokrat untuk dikirim ke rekening fraksi. Selain itu, uang tersebut digunakan untuk kegiatan fraksi mulai dari makan, membeli bunga, proposal hingga rapat-rapat fraksi.

‎Saat ditanya jaksa penuntut umum (JPU) KPK, kalau sumber uang Nazaruddin dari mana. Saudara tahu. Menurutnya, dirinya tidak mengetahui dari mana asal uang Muhammad Nazaruddin dan hanya mengetahui soal iuran anggota fraksi.

Bahkan, juga dijelaskan bahwa setiap ada anggota Partai Demokrat‎ yang membayar iuran, itu selalu dicacat olehnya di buku besar secara manual.

Selanjutnya, juga ditegaskan Eva Ompita Soraya, Muhammad Nazaruddin sendirilah yang meminta dirinya membuat pembukuan di buku besar, tidak di komputer.

“Ada catatannya di buku besar, pakai cara manual‎ karena perintah Pak Nazaruddin. Sebelum Pak Nazaruddin ke luar negeri, dia suruh saya kasih seluruh pengeluaran ke beliau. Lalu dipilah sama beliau, mana yang dibawa mana yang tidak,” tegas Eva Ompita Soraya.

Sementara, jaksa penuntut umum KPK kembali bertanya ‎apakah Muhammad Nazaruddin pernah memerintahkan agar catatan di buku besar di bakar. Menurut Eva Ompita Soraya, dirinya mengiyakan namun  tidak dilakukan.

“Setelah kongres, Pak Nazaruddin bilang, Va buang-buangin catatan (pembukuan). Saya jawab, kalau bapak tanya ke saya bagaimana. Pak Nazaruddin bilang, kalau dia masih ingat. Terakhir bukunya tetap di Pak Nazaruddin karena waktu itu dia minta lagi catatannya, dan masih saya simpan. Saya ketemu di sebuah lobi hotel untuk memberikan catatan itu,” tandas Eva Ompita Soraya.

loading...