Titiek-Soeharto-1
Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. (foto: Tirto/Andrey Gromico)

JAKARTA, harianpijar.com – Peluang Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto untuk bertarung dalam perebutan kursi ketua umum Partai Golkar dinilai cukup berat jika hanya mengandalkan nama besar Presiden ke-2 Soeharto.

Selain itu, Titiek Soeharto juga kalah cepat melakukan pendekatan dengan para pengurus daerah jika dibandingkan dengan calon lain.

“Kepentingan terdekat kan di pileg (pemilu legislatif) dan pilkada. Kalau mbak Titiek tidak melakukan silaturahmi ke pengurus DPD, sulit meraih simpati,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya, seperti dilansir detik, Selasa, 12 Desember 2017.

Yunarto Wijaya mengatakan, pertemuan dengan DPD Partai Golkar akan menjadi pembuka tawaran kepada pengurus saat Pilkada serentak 2018 atau Pemilu 2019 nanti.

Proses tawar menawar politik terkait perubahan calon kepala daerah yang diusung Partai Golkar dan pencalegan menjadi pembicaraan substansial untuk menentukan calon ketua umum nantinya.

Namun, Titiek Soeharto justru bertemu dengan para sesepuh Partai Golkar dikediamannya pada Sabtu, 9 Desember 2017. Padahal, menurut Yunarto Wijaya, mereka sama sekali tak memiliki otoritas di Partai Golkar.

“Sesepuh itu bukan penyandang suara di Munaslub, jadi tidak efektif,” kata Yunarto Wijaya.

Seharusnya, selain mendekati DPD, Titiek Soeharto juga harus mendekati sejumlah organisasi sayap Partai Golkar yang memiliki suara di Munaslub.

Kemudian Yunarto Wijaya pun menceritakan, pada Munaslub di Bali 2016 lalu, Tommy Soeharto (adik Titiek Soeharto) pernah maju dalam pertarungan untuk memperebutkan kursi ketua umum Partai Golkar.

Namun, karena kurangnya dukungan, nama Tommy Soeharto tak muncul sebagai calon. Hasil ini menunjukkan nama besar Soeharto tak cukup untuk menjadi modal.

Berdasarkan hal itu, Yunarto Wijaya lantas membandingkan peluang antara Airlangga Hartarto (Menteri Perindustrian), Aziz Syamsuddin yang mengandalkan warisan Setya Novanto, dan Titiek Soeharto yang mengandalkan harismatik Soeharto.

“Mana yang lebih efektif nantinya?” ujar Yunarto Wijaya. (nuch/det)

BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR