Fredrich-Yunadi
Fredrich Yunadi. (foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

JAKARTA, harianpijar.com – Ahli hukum Tata Negara Bivitri Susanti menilai upaya kuasa hukum tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP Setya Novanto, Fredrich Yunadi, dalam melaksanakan tugas untuk membela kliennya sangat mencoreng profesi hukum.

Lain itu, Fredrich Yunadi dianggap sudah melewati batas dalam memberikan keterangan dan informasi tentang Setya Novanto yang tidak sesuai dengan bukti.

“Memberikan informasi menyesatkan, katanya berdarah sampai benjol segede bakpau, ini enggak bisa didiamkan. Ini malu-maluin kita profesi hukum,” kata Bivitri Susanti dalam diskusi bertajuk ‘Ke Mana Ujung Drama Novanto’ di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu, 18 November 2017.

Menurut Bivitri Susanti, Fredrich Yunadi dianggap telah memberikan informasi yang membuat publik menjadi bingung, yakni dengan menggunakan taktik mengulur waktu dengan menolak menandatangani berita acara. Bahkan, menurutnya taktik tersebut dinilai sebagai taktik yang standar.

“Keprihatinan saya sebagai orang hukum, publik seperti diombang-ambing oleh tim advokatnya Setya Novanto,” ucap Bivitri Susanti.

Lebih lanjut, ditegaskan Bivitri Susanti, perilaku Fredrich Yunadi bisa dilaporkan pada Persatuan Advokat Indonesia (Peradi). Karena, dalam menjalankan profesinya seorang advokat tidak bisa sedikit-sedikit melakukan tuntutan yang tidak wajar.

Sementara, Fredrich Yunadi saat dikonfirmasi secara terpisah, dirinya menanggapi santai kritikan tersebut. Bahkan, dirinya malah balik menuding pihak-pihak yang mengkritiknya tidak mengerti hukum.

“Saya hanya menjalankan sesuai dengan profesi saya, sesuai dengan hukum yang berlaku. Dan saya rasa mereka-mereka yang kritik, saya yakin kurang memahami hukum,” kata Fredrich Yunadi.

Selain itu, menurutnya, persoalan benar atau tidaknya Setya Novanto kecelakaan hanya bisa dibuktikan oleh kepolisian. Apalagi, kepolisan juga sudah menyebut insiden yang menimpa Setya Novanto murni kecelakaan.

“Mereka profesinya apa. Dan apakah sekarang bisa melampaui instansi yang berwenang. Polisi juga sudah menyatakan ini murni kecelakaan,” tegas Fredrich Yunadi.

Seperti diketahui, Setya Novanto mengalami kecelakaan di kawasan Permata Hijau, Jakarta Barat pada Kamis, 16 November 2017. Insiden tersebut terjadi saat Setya Novanto dalam perjalanan ke Metro TV untuk diwawancarai secara eksklusif.

Setelah wawancara tersebut, Setya Novanto berencana menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah pada malam sebelumnya Setya Novanto tiba-tiba menghilang dari rumahnya saat akan ditangkap KPK.

Namun, di tengah perjalanan, mobil Toyota Fortuner dengan nomor polisi B 1732 ZLO yang ditumpangi Setya Novanto mengalami kecelakaan.

KPK sedianya juga sudah mengeluarkan surat penahanan terhadap Setya Novanto. Tapi, penahanan terhadap Ketua Umum Partai Golkar ini dibantarkan lantaran saat ini Setya Novanto masih dirawat intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM).

loading...