Mobil-Setya-Novanto-1
Kondisi mobil Setya Novanto. (foto: detik/Istimewa)

JAKARTA, harianpijar.com – Ketua DPR RI Setya Novanto dikabarkan mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mobil yang dinaikinya diketahui menabrak tiang listrik sehingga menyebabkan Setya Novanto terluka.

Instruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, jika kejadian ini tidak direkayasa, kemungkinan kejadian kecelakaan dan terlukanya Setya Novanto bisa saja benar terjadi.

Kecelakaan itu, kata Jusri Pulubuhu, kemungkinan terjadi di bawah kecepatan 20 km/jam.

“Dengan kerusakan yang terlihat secara visual, di mana bumper tidak lepas, terus headlamp nggak pecah, kemungkinan itu kecelakaan dalam kecepatan di bawah 20 km/jam. Apalagi airbag tidak mengembang (biasanya airbag mobil akan mengembang ketika terjadi benturan frontal di atas kecepatan tertentu), patut diduga di bawah 20 km/jam. Kecelakaan seperti itu kerusakannya seperti itu memungkinkan terjadi,” kata Jusri Pulubuhu, seperti dilansir dari detik, Jumat, 17 November 2017.

Baca juga: Kuasa Hukum Sebut Setya Novanto Kecelakaan dalam Perjalanan ke KPK

Lebih lanjut Jusri Pulubuhu menyebutkan, jika sopir atau penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman, maka mereka akan bergerak ke depan ketika terjadi tabrakan frontal.

Gaya gerak ke depan sopir atau penumpang akan lebih besar ketika kendaraan mengalami kecelakaan dalam kecepatan lebih tinggi sehingga kemungkinan benturan tubuh sopir atau penumpang ke objek di depan seperti dasbor atau headrest kursi baris pertama akan semakin keras. Efeknya, lukanya semakin parah.

Mobil-Setya-Novanto-2
Kondisi mobil Setya Novanto. (foto: detik/Istimewa)

“Ketika badan bergerak ke depan misalnya kepala atau badan atau tangan sopir bisa mencapai kaca depan, kaca depan bisa pecah (tapi kondisi kaca mobil Setya Novanto tidak pecah). Kalau tidak mencapai kaca, misalnya, dada sopir bisa terbentur. Kalau penumpang depan, dia bisa membentur dasbor. Atau kalau dia duduk di belakang, bisa saja membentur kursi di depannya atau headrest. Manakala headrest ada sistem layar audio yang terbuat dari mika atau kaca, itu juga bisa melukai seseorang,” jelas Jusri Pulubuhu.

Jusri Pulubuhu mengatakan, gaya benturan tabrakan ketika kecepatan 20 km/jam juga besar. Pasalnya, kata Jusri Pulubuhu, gaya tabrakan di kecepatan 20 km/jam sama seperti gaya objek jatuh dari ketinggian 3-4 meter.

“Tubuh itu akan menerima benturan setara terjun bebas dari ketinggian 3-4 meter itu kalau kecepatan 20 km/jam. Jadi saya membayangkan, kalau badan kita jatuh dari ketinggian itu ya bonyok juga. Bisa saja terjadi. Apalagi kalau orang tersebut tidak siap (ketika akan terjadi benturan),” ujarnya.

Senada dengan Jusri Pulubuhu, Bintarto Agung dari Indonesia Defensive Driving Center menyebutkan, kecelakaan adalah sebuah frontal crash yang tidak kencang.

Mobil-Setya-Novanto-3
Kondisi mobil Setya Novanto. (foto: detik/Istimewa)

“Kalau saya lihat dan analisa foto-fotonya dari mobil Fortuner yang ada di detik, menurut saya itu adalah frontal crash (tabrak depan), dan tidak lebih dari 35-45 km/jam saat impact terjadi. Dapat dikategorikan sebagai kecelakaan tidak berat (tiang masih berdiri tegak, kaca depan tidak rusak, apron dan cross member mobil juga kelihatannya tidak rusak parah),” kata Bintarto Agung.

“Kalau kaca samping pecah, ini yang agak aneh menurut saya, karena analisa saya adalah frontal crash maka tidak ada gaya sentrifugal yang cukup besar, yang dapat menyebabkan bagian kepala penumpang terbawa ke samping dan membentur kaca samping,” lanjutnya.

Selain itu, Bintarto Agung juga menyebutkan, luka serius bisa dihindari jika sopir atau penumpang mengenakan sabuk pengaman.

Baca juga: Kepalanya Disebut Bengkak Seperti Bakpao, Begini Kondisi Setya Novanto Saat Ini

“Dan kalau penumpang belakang tidak pakai sabuk keselamatan–sebagai salah satu kemungkinan skenario–dengan kecepatan impact yang tidak terlalu besar, juga sepertinya tidak akan membuat penumpang tersebut mengalami luka yang serius, walaupun kemungkinan akan ada benturan pada kepala dan badan dengan bagian belakang jok depan,” ungkap Bintarto Agung.

Seperti diberitakan sebelumnya, kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi, menyebut kondisi kliennya akibat kecelakaan itu terluka parah dan kepalanya bengkak seperti bakpao.

“Terus langsung panggil dokter untuk MRI. Urgen masih tidur dan diperban lukanya. Benjol besar kepalanya, tangannya berdarah semua,” kata Fredrich Yunadi di RS Permata Hijau, Jaksel, Kamis, 16 November 2017.

“Hancur cur… cur… mobilnya itu. Lukanya parah, tangannya luka semua, berdarah, kepala terbentur benjol-benjol,” ujarnya. (nuch/det)

BAGIKAN