HARIAN-PIJAR

JAKARTA, harianpijar.com – Pengangkatan Prof Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Din Syamsuddin, menjadi utusan khusus oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban, dinilai sangat tepat.

Lain itu, salah satu tugas Din Syamsuddin adalah untuk mempromosikan kerukunan antar agama di dalam dan luar negeri.

“Penunjukan Prof Din mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan sekarang Ketua Dewan Pertimbangan MUI pusat sebagai utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban itu sangat tepat,” kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyiddin Junaidi kepada wartawan, Senin, 30 Oktober 2017.

Menurut Muhyiddin Junaidi, pengangkatan Din Syamsuddin sebagai utusan khusus presiden yang bertugas mempromosikan kerukunan antar agama sangat baik. Apalagi Indonesia sudah dikenal berpengalaman dalam merawat Islam moderat yang sangat sejalan dengan nilai-nilai demokrasi modern.

“Jadi tugas utama Pak Din memang untuk menyampaikan kepada masyarakat dunia, baik di dalam juga di luar negeri bahwa agama seharusnya dijadikan sebagai perekat,” ucap Muhyiddin Junaidi.

Lebih lanjut, ditegaskan Muhyiddin Junaidi, agama justru sebagai perekat etnis dan budaya, agama bukan sebagai pemecah dan pemicu masalah. Lain itu, agama juga bukan sebagai pembuat masalah, justru agama sebagai solusi dari segala masalah.

Selain itu, menurutnya di dalam negeri akhir-akhir ini ada orang-orang yang menggunakan agama untuk kepentingan politik. Mereka menggunakan agama untuk kepentingan sesaat.

“Jadi penting sekali peran utusan khusus presiden yang tugasnya untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban. Agama nilainya sangat tinggi seharusnya agama sebagai petunjuk bagi umat manusia,” tegas Muhyiddin Junaidi.

Sementara, juga dikatakan Muhyiddin Junaidi, akhir-akhir ini sejak tahun 2011 di kawasan Timur Tengah telah terjadi penyimpangan terhadap penafsiran ayat-ayat Alquran secara sepihak. Karena itu, timbul kelompok-kelompok radikal dan ekstremis. Mereka cenderung tidak mau toleransi terhadap perbedaan pandangan dan mazhab.

“Terbentuklah kelompok fanatisme yang justru ini sangat berbahaya bagi perdamaian,” kata Muhyiddin Junaidi.

Sedangkan, fanatisme yang dibangun mereka adalah fanatisme terhadap pendapat pribadi dan individu. Bukan fanatisme terhadap kebenaran agama.

Di sisi lain, Indonesia sudah dikenal berpengalaman dalam merawat Islam moderat yang sangat sejalan dengan nilai-nilai demokrasi modern.

Berdasarkan hal itu, pengangkatan Din Syamsuddin sebagai utusan khusus presiden yang bertugas mempromosikan kerukunan antar agama dinilai tepat oleh MUI.

loading...