Neta-S-Pane
Neta S Pane. (foto: Dok. Metrotvnews)

JAKARTA, harianpijar.com – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya diminta melepaskan Ihsan Munawwar (IM) dan Muhammad Ardy Sutrisbi (MAS) dari tahanan Polda Metro Jaya. Keduanya yang merupakan mahasiswa di STEI dan IPB itu ditahan karena terkait aksi di depan Istana Negara beberapa hari lalu.

“Mengingat mereka sudah ditahan beberapa hari lalu sebaiknya polisi segera membebaskannya,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Rabu 25 Oktober 2017.

Menurut Neta S Pane, yang menjadi alasan kenapa dua mahasiswa itu harus segera dibebaskan, karena apa yang mereka lakukan sudah sering dilakukan mahasiswa lainnya. Karena itu, para demonstran tersebut harus segera dibebaskan sebab apa yang mereka lakukan bukanlah hal baru, ada yurisprudensinya.

Lebih lanjut, ditegaskan Neta S Pane, agar polisi tidak dituduh melakukan tindakan diskriminatif terhadap pihak atau kelompok tertentu yang melakukan hal sama, namun tidak sampai ditahan. Contohnya, saat para pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan aksi demo hingga dinihari di depan LP cipinang dan tidak ada satupun yang ditangkap polisi.

Sementara, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, pihaknya memastikan ke-16 mahasiswa yang jadi tersangka itu proses hukumnya tetap akan dituntaskan sampai ke pengadilan.

“Pemeriksaan sudah dilakukan ya, segera mungkin untuk melengkapi berkas perkara. Kalau sudah diperiksa semua dan digelarkan dan sudah selesai, kita kirim ke kejaksaan,” kata Kombes Argo Yuwono.

Lebih lanjut, juga ditegaskan Kombes Argo Yuwono, dirinya memastikan, sampai saat ini Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis belum memerintahkan Kasubdit Keamanan Negara (Kamneg) untuk mengeluarkan kedua mahasiswa yang saat ini masih ditahan.

Sementara, sesuai tugas pokok dan fungsi, Direktorat Kriminal Umum Subdit Keamanan Negaralah yang menangani gerakan-gerakan masa yang menentang kebijakan pemerintah. Bahkan, selama ini para demonstran yang ditangkap selalu dibebaskan tanpa proses litigasi di pengadilan.

Selain itu, Kombes Argo Yuwono juga mengatakan, agar supaya kedua mahasiswa IPB dan STEI bisa bebas, mesti ada pihak yang mengajukan permohonan penangguhan penahanan. Pasalnya, Kapolda tidak bisa begitu saja mengeluarkan tahanan tanpa mengajukan penangguhan penahanan seperti yang diatur perundang-undangan.

“Sampai sekarang kita belum dapat surat permohonan penangguhan penahanan. Tentunya ini diperbolehkan karena diatur oleh UU, dari keluarga, maupun pihak TSK,” tandas Kombes Argo Yuwono.

Meskipun demikian penangguhan penahan tetap diatur dalam UU, dan yang memutuskan penangguhan itu diterima atau tidak merupakan kewenangan penyidik.

SUMBERRepublika
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR