tito-bom-bali-novel
Jenderal Tito Karnavian, kasus Novel Baswedan hampir serupa dengan kasus pelemparan bom molotov ke Kedutaan Besar Myanmar dan sebuah rumah ibadah di Yogyakarta.

JAKARTA, harianpijar.com – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan, kasus penyiraman air keras ke wajah penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan lebih sulit untuk diungkap dibanding dengan kasus Bom Bali.

Menurut Jenderal Tito Karnavian, penyiraman terhadap Novel Baswedan masuk kategori kasus hit and run yang hanya meninggalkan sedikit jejak. Sementara kasus Bom Bali terbilang mudah diungkap karena meninggalkan banyak barang bukti.

Selain itu, juga dikatakan Jenderal Tito Karnavian, pelaku dalam kasus Bom Bali juga terbilang banyak sehingga mudah diketahui.

“Kadang-kadang kami sulit tangani ketika kasus terjadi dengan cepat dengan metode hit and run ini. Berbeda dengan kasus yang besar seperti bom Bali,” kata Jenderal Tito Karnavian saat rapat kerja (Raker) dengan Komisi III di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 12 Oktober 2017.

Lebih lanjut, dijelaskan Jenderal Tito Karnavian, dirinya menilai kasus Novel Baswedan hampir serupa dengan kasus pelemparan bom molotov ke Kedutaan Besar Myanmar dan sebuah rumah ibadah di Yogyakarta. Lain itu, kedua kasus tersebut sulit untuk diungkap, karena jumlah pelaku terbatas dan kemungkinan dilakukan orang baru.

Namun, menurut Jenderal Tito Karnavian, meski kesulitan pihaknya masih melakukan penyidikan dengan memeriksa saksi yang jumlahnya sudah lebih dari 50 saksi. Serta memeriksa lebih dari 100 CCTV di sekitar kediaman Novel Baswedan.

“Kemudian sudah juga dilakukan metode konfrontasi antara para saksi dengan tiga orang yang menurut saudara Novel Baswedan dicurigai sebagai pelakunya, tapi para saksi sudah menyatakan dan direkam di video itu bukan pelakunya,” jelas Jenderal Tito Karnavian.

Bahkan, Jenderal Tito Karnavian mengklaim, Kepolisian juga sudah mengajak KPK untuk membuat tim gabungan untuk melakukan penyidikan terhadap kasus Novel Baswedan yang sampai saat ini belum ditindaklanjuti KPK.

Menurut Jenderal Tito Karnavian, soal sikap KPK itu, dirinya menduga karena masih menghadapi kasus-kasus yang dianggap lebih penting seperti kasus e-KTP dan lain-lain.

“Sehingga energi dan fokus ke sana,” ujarnya.

Sementara, untuk mengungkap kasus Novel Baswedan, kepolisian masih akan meminta dan mendalami keterangan yang bersangkutan.

Sedangkan, Novel Baswedan sampai saat ini masih berada di Singapura menjalani proses perawatan dan pemulihan setelah mendapat serangan air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu.

Selain itu, insiden tersebut terjadi saat Novel Baswedan hendak pulang ke rumahnya usai menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bahkan kemarin, kasus Novel Baswedan genap berjalan enam bulan. Lain itu, dirinya akan menjalani operasi kedua di mata kirinya dan diprediksi kembali ke Indonesia pada bulan November mendatang.

SUMBERCNNIndonesia
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR