warga-kekeringan
Warga mengantre bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Risiko Bencana (BPBD) Banjarnegara, Kamis, 31 Agustus 2017.(Dok. Humas BPBD Banjarnegara)

SEMARANG, harianpijar.com – Kondisi kekeringan diprediksi akan terjadi hingga 31 Oktober 2017. Menurut Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo setidaknya ada 32 daerah dari 35 kabupaten/kota di Jateng yang mengalami bencana kekeringan.

Terkait hal itu, Ganjar Pranowo mengatakan, kalau ada pihak-pihak yang membutuhkan air bisa melaporkan ke akun Twitternya, @ganjarpranowo.

“Kalau butuh air lapor ke akun (Twitter) saya saja. Saat ini yang dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk melapor,” ujar Ganjar Pranowo, di Semarang, seperti dilansir dari Kompas, Sabtu, 23 September 2017.

Lebih lanjut Ganjar Pranowo mengatakan, dari 32 daerah yang mengalami kekeringan, Kabupaten Blora dan Kabupaten Wonogiri yang cukup parah. Dua daerah itu perlu penanganan khusus untuk mengatasi kekeringan.

“Semua pihak sudah memberikan bantuan droping air, pipanisasi, sumur bur,” kata Ganjar Pranowo.

Menurut Ganjar Pranowo, perlu kombinasi penanganan baik jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi kekeringan. Droping air, pembuatan sumur bor perlu terus dilakukan.

Sedangkan untuk jangka panjang, terutama di daerah dataran tinggi yang mempunyai wilayah kering agar dibuat waduk atau embung untuk memanen hujan. Langkah lain, yaitu membuat tandon, biopori.

“Karena ada daerah-daerah tertentu yang menjadi langganan, ya kita sisipkan. Di daerah tertentu sudah pasti ada effort yang lebih, misalnya agak parah, Blora, Wonogiri,” kata Ganjar Pranowo.

Sementara itu, pada 1 September lalu, Badan Penanggulangan Risiko Bencana (BPBD) Jateng mencatat ada 123 desa di 16 Kabupaten di Jawa Tengah darurat kekeringan. Desa-desa tersebut hingga saat ini terus mendapat bantuan air baik dari pemerintah daerah maupun pihak swasta. (nuch/kom)

BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR