Binsar-Gultom
Hakim Binsar Gultom. (foto: detik)

JAKARTA, harianpijar.com – Dalam bukunya ‘Pandangan Kritis Seorang Hakim’, Hakim Binsar Gultom menyatakan tentang perlunya tes keperawanan terhadap calon pengantin perempuan.

Namun, agar tidak terjadi diskriminasi, Binsar Gultom juga meminta kepada lelaki untuk melakukan hal yang sama, yaitu tes keperjakaan.

“Tidak adil kalau wanita yang tes keperawannya. Bagaimana si lelaki? jika bukan perjaka lagi? Ini berkembang pengetahun kita. Kewajiban pemerintah untuk bisa mendeteksi sejauh mana seorang pria masih perjaka atau tidak, harus diangkat fokus berita ini,” kata Binsar Gultom seperti dilansir detik, Senin, 11 September 2017.

Lebih lanjut, hakim yang dikenal publik saat menjadi majelis hakim di perkara Jessica kumala Wongso itu meminta para ahli kedokteran meneliti dan membuat kajian cara mendeteksi mengetes keperjakaan seseorang.

Dirinya yakin dengan teknologi kedokteran yang sudah sangat canggih saat ini cara itu bisa ditemukan.

“Sekarang dokter atau ahli kandungan, (masak) tidak bisa mendeteksi soerang pria sudah tidak perjaka? Itu harus bisa, jaman canggih,” ujar Binsar Gultom.

Selain itu, Binsar Gultom juga meyakini dunia kedokteran bisa menguji apakah keperjakaan lelaki hilang karena berhubungan badan dengan perempuan lain atau karena onani.

Hal itu, kata Binsar Gultom, untuk mencegah bibit-bibit perceraian yang timbul kemudian hari. Apalagi kalau sampai terdeteksi keperjakaan calon suami terenggut di dunia malam atau rumah pelacuran.

“Ini tidak bermaksud mengkerdilkan, merendahkan martabat perempuan. Tapi perempuan jangan langsung mudah jatuh cinta,” ujarnya.

Sementara itu, Buku ‘Pandangan Kritis Seorang Hakim’ merupakan buku terbaru dari Hakim Binsar Gultom.

“Saya selaku pimpinan Mahkamah Agung memberikan apresiasi atas usaha yang telah dilakukan Saudara Binsar Gultom yang telah berhasil menulis buku ini. Buku ini kiranya dapat memperkaya pengetahuan para pembacanya di bidang hukum. Saya juga berharap buku ini bisa berkontribusi bagi penegakan hukum dan keadilan di Indonesia,” ujar Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali dalam sambutan buku tersebut di halaman XI. (nuch/det)

loading...