Rodrigo-Duterte
Presiden Filipina Rodrigo Duterte saat mengunjungi pasukan yang memerangi kelompok ekstrimis Maute di Marawi, 24 Agustus 2017. (foto: Presidential Palace/Handout via REUTERS)

MANILA, harianpijar.com – Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Pertemuan tersebut rencananya akan membahas kemungkinan pembentukan satuan tugas (satgas) untuk memerangi militan ISIS di Marawi.

“Kami telah sepakat bahwa kami akan berbicara, kami bertiga. Kami hanya menunggu waktu yang tepat,” kata Rodrigo Duterte, seperti dilansir Reuters, Senin, 4 September 2017.

Presiden Filipina itu menyatakan kesediaannya untuk membuka perbatasan kepada pasukan Indonesia dan Malaysia untuk memburu militan ISIS.

“Kemungkinan besar, ini akan menjadi gabungan, satuan tugas. Dan saya akan membuka perbatasan saya ke pihak berwenang Malaysia dan pemerintah Indonesia, mereka akan diberi akses,” ujar Rodrigo Duterte.

Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara telah sepakat untuk menggunakan pesawat mata-mata dan pesawat tanpa awak untuk menghentikan pergerakan militan yang melintasi batas negara mereka.

Pada Juni lalu, ketiga negara sepakat untuk mengumpulkan intelijen dan memutuskan pembiayaan para militan. Bahkan pada November lalu, Filipina telah mengizinkan Indonesia dan Malaysia melakukan patroli di perairan teritorialnya untuk mengatasi penculikan dan pembajakan oleh kelompok Abu Sayyaf.

Selain itu, pertemuannya dengan Jokowi dan Najib Razak, menurut Rodrigo Duterte, dapat dilakukan setelah kota Marawi di Filipina Selatan dikepung.

Lebih dari 600 militan ISIS, 45 warga sipil, dan 136 pasukan Filipina dari tentara dan polisi dikabarkan tewas dalam pertempuran di Marawi yang berlangsung lebih dari 100 hari itu.

Meskipun demikian Militer Filipina yakin pertempuran ini akan segera berakhir.

Wakil Komandan Militer Satgas Marawi, Romeo Brawner mengatakan daerah yang dikuasai pemberontak semakin menyusut. Selain itu, ada tanda-tanda para militan ISIS kekurangan makanan dan amunisi.

“Mudah-mudahan, pengepungan Marawi akan selesai dalam beberapa minggu ke depan. Kekuatan mereka terus menurun, kami menimpakan korban hampir setiap hari,” kata Romeo Brawner. (nuch/det)

BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR