Setya-Novanto
Setya Novanto. (foto: google images)

JAKARTA, harianpijar.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menelusuri kerugian negara sebesar Rp2,3 triliun dalam proyek kasus Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) atas tersangka Ketua DPR RI Setya Novanto.

“Kami telusuri secara terus menerus ke mana saja aliran dana dari kerugian keuangan negara sekitar Rp2,3 triliun. Termasuk juga aset menjadi salah satu perhatian dari penyidik KPK,” kata Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Senin, 4 September 2017.

Lebih lanjut Febri Diansyah mengungkapkan, sejumlah nama telah diperiksa KPK sebagai saksi Setya Novanto, diantaranya dari pihak swasta Fransiscus Eduwardus Cintong Tigor Tonggo Tua Simbolon, Tunggul Baskoro dan Shierlyn Chandra serta seorang karyawan Perum Percetakan Negara RI (PNRI) Agus Eko Priadi.

“Penyidik melakukan pemeriksaan terhadap pihak swasta, di mana beberapa adalah nama baru,” ujar Febri Diansyah.

Sedangkan guna menelusuri larinya uang Setya Novanto dalam kasus tersebut KPK menggunakan metode follow the money.

“Lebih jauh kami gunakan pendekatan follow the money yaitu kami melihat transaksi keuangan yang diduga terkait dengan kasus e-KTP,” ungkapnya.

Menurut Febri Diansyah, KPK baru-baru ini juga telah melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti baru dalam kasus yang sama.

“Kemarin beberapa penggeledahan dan disita sejumlah barang bukti elektronik komunikasi-komunikasi yang ada. Kami dapatkan info yang baru. Jadi kami mulai dapatkan info yang lebih kuat,” kata Febri Diansyah.

Seperti diketahui, Setya Novanto telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam korupsi proyek pengadaan e-KTP sewaktu menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Dirinya diduga menguntungkan diri atau orang lain atau korporasi.

Tak hanya itu, Setya Novanto juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan, serta diduga ikut mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp2,3 triliun dari nilai proyek Rp5,9 triliun. (nuch/kom)

loading...