Abdul-Fickar-Hadjar
Pengamat hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar. (foto: google images)

JAKARTA, harianpijar.com – Pengamat hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai kematian salah satu saksi kunci kasus e-KTP, Johannes Marliem, bisa menjadi teror bagi saksi-saksi lainnya dalam kasus serupa. Lain itu, kematian Johannes Marliem mau tidak mau akan dihubungkan dengan orang yang dirugikan oleh keterangannya walaupun belum tentu kebenarannya.

“Kematian saksi ini berpotensi atau bisa menjadi ‘teror’ terhadap mereka yang menjadi saksi-saksi perkara korupsi,” kata Abdul Fickar Hadjar saat dikonfirmasi, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Lebih lanjut, ditegaskan Abdul Fickar Hadjar, maka dari itu diperlukan upaya-upaya penegak hukum, khususnya KPK agar para saksi merasa aman dan lebih kooperatif dalam memberikan keterangannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan menurutnya adalah bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Diperlukan upaya-upaya penegak hukum khususnya KPK untuk melakukan upaya-upaya meminimalisir potensi (saksi merasa diteror) itu. KPK bisa bekerjasama dengan LPSK membuat safe house,” tegas Abdul Fickar Hadjar.

Seperti diberitakan, salah satu saksi kunci kasus e-KTP, Johannes Marliem, dikabarkan meninggal dunia di Amerika Serikat. Johannes Marliem diduga tewas karena bunuh diri di rumah sewaannya di Beverly Grove, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Kamis 10 Agustus 2017 pagi waktu setempat. Lain itu, Johannes Marliem tewas dengan menyisakan luka tembak.

SUMBERRepublika
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR