buniyani-1
Buni Yani, saya sebagai terdakwa yang sembilan bulan prosesnya telah berjalan, merasa ada niat yang kurang baik dari jaksa.

BANDUNG, harianpijar.com – Buni Yani kembali menyebut penanganan perkara yang menjerat dirinya dipaksakan. Bahkan, Buni Yani menduga ada permainan elite politik yang campur tangan hingga dirinya menjalani persidangan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Saya sebagai terdakwa yang sembilan bulan prosesnya telah berjalan, merasa ada niat yang kurang baik dari jaksa,” kata Buni Yani kepada wartawan usai menjalani persidangan lanjutan dengan agenda putusan sela di gedung Arsip, Jl Seram, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 11 Juli 2017.

Menurut Buni Yani, sejumlah kejanggalan terkait proses penanganan perkaranya. Lain itu, kejanggalan menurutnya bermula dari pemindahan lokasi sidang dari Pengadilan Negeri (PN) Depok ke PN Bandung.

Selain itu, ditegaskan Buni Yani, dirinya juga menyoroti Jaksa Agung HM Prasetyo. Karena, menurutnya HM Prasetyo yang pernah jadi kader Partai NasDem diduga tidak objektif memberikan instruksi penanganan perkara kepada jajarannya.

“Bahkan kita tahu, bahwa Jaksa Agung berasal dari Partai NasDem dan NasDem adalah orang pertama kali yang mencalonkan Ahok sebagai Gubernur. Jadi ada semacam kehilangan yang besar yang dirasakan Jaksa Agung ketika Ahok kalah dan dipenjara,” tegas Buni Yani.

Baca juga:   Pertemuan Paloh-PKS, Hasto: PDIP Ingatkan Konsistensi Partai Koalisi

“Lalu kok Buni Yani mau lepas. Bagaimana caranya Buni Yani digencet,” lanjut Buni Yani.

Lebih lanjut, Buni Yani juga mengatakan, kasus yang menjeratnya seharusnya tidak berlanjut ke pengadilan. Alasannya ahli hukum independen, menurut Buni Yani menyebut tidak ada unsur pidana dalam kasusnya.

“Tetapi tetap diproses hukum naik ke atas. Bahkan setelah Ahok dipenjara, oleh jaksa ini dinaikan ke pengadilan. Jadi yang mengatakan ini enggak ada unsur politisnya itu bohong. Makanya saya merasa ada niat jahat dan tidak baik yang dimiliki diduga oleh jaksa Buni Yani harus masuk penjara,” kata Buni Yani.

Selain itu, Buni Yani juga menegaskan, saat berorasi menemui massa pendukung yang mengawal jalannya persidangan. Buni Yani menyebut dugaan rekayasa dalam penanganan perkaranya.

Baca juga:   Amien Rais: Dari Masa Ke Masa KPK Hebat, Tapi Tidak Berani Usut Perkara Besar

“Bolak-balik kasus susah mencari salah saya di mana akhirnya P-21 juga naik ke kejaksaan prosesnya. Setelah P-21, bagaimana menyusun dakwaan, susah menyusun dakwaannya. Tetapi karena kejaksaan ini pimpinannya dipimpin oleh salah satu dari partai politik saya sebutkan saja dari Partai Nasdem dan Partai Nasdem yang pertama kali mendukung Pak Ahok menjadi gubernur Jakarta jadi sangat tidak ikhlas Pak Ahok tidak menang pemilu, tidak menang pilkada, masuk penjara 2 tahun juga. Buni Yani harus masuk penjara juga,” kata Buni Yani lewat pengeras suara.

“Kira-kira ini adil nggak Buni Yani masuk penjara kalau dasarnya dendam politik,” jelas Buni Yani dalam orasinya.

Sementara diketahui, jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Buni Yani mengubah video pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Buni Yani juga didakwa jaksa mengupload atau mengunggah video yang telah diubah itu ke laman Facebook pribadinya untuk menyebarkan kebencian.

Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of