Novel-Baswedan-1
Julius Ibrani, menyebut mantan kliennya tersebut merupakan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak akan sembarangan menuduh. (foto: Antara)

JAKARTA, harianpijar.com – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dinilai bukan orang yang suka sembarang menyampaikan sesuatu kepada publik.

Menurut mantan pengacara Novel Baswedan, Julius Ibrani, menyebut mantan kliennya tersebut merupakan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak akan sembarangan menuduh. Lain itu, dirinya yakin apa yang dikatakan Novel Baswedan kepada majalah Time serius dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Novel yang kami kenal baik secara profesional, hubungan pengacara advokat dan klien, belum kami temukan, pernah mengatakan informasi yang tidak benar, sampai detik ini,” kata Julius Ibrani di kantor Indonesia Coruption Watch (ICW), Jakarta Selatan, Minggu 18 Juni 2017.

Seperti diberitakan, kepada majalah Time, Novel Baswedan menyebut ada keterlibatan Jenderal Polisi dalam kasus penyerangan terhadap dirinya. Namun, Novel Baswedan tidak menyebutkan secara spesifik nama Jenderal tersebut.

Selain itu, nama Novel Baswedan mencuat saat dirinya menangani kasus dugaan korupsi simulator SIM tahun 2012 yang menyeret mantan Kakorlantas Polri, Irjen Pol Djoko Susilo. Saat itu, Novel Baswedan masih berstatus sebagai penyidik Polri yang diperbantukan di KPK dengan pangkat Kompol.

Sementara, penanganan kasus tersebut berbuntut terhadap upaya penangkapan Polisi terhadap Novel Baswedan. Lain itu, Polisi hendak menangkap Novel Baswedan atas kasus dugaan penembakan terhadap seorang pelaku pencurian. Kasus tersebut terjadi saat Novel masih bertugas di Polda Bengkulu.

Sedangkan, kasus lain yang ditangani Novel Baswedan adalah kasus dugaan korupsi reklamasi yang sempat menyeret nama Gubernur DKI Jakata Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Chairman PT Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma alias Aguan.

Selanjutnya, saat ini Novel Baswedan sedang menangani kasus megakorupsi e-KTP yang nilai proyeknya mencapai sekitar Rp 5,9 triliun dan kasus tersebut menyeret sejumlah nama besar. Diantaranya Ketua DPR RI Setya Novanto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, dan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.

Namun, hingga kini kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan belum bisa dituntaskan kepolisian.

Lamanya pengungkapan kasus tersebut, menurut Julius Ibrani, sangat bisa dimaklumi jika membuat Novel Baswedan geram. Akhirnya Novel Baswedan pun memutuskan membuka mulut kepada publik soal apa yang dirinya tahu.

“Ini sudah dua bulan lebih ya, saya pikir Novel juga sudah frustasi,” kata Julius Ibrani.

Selain itu, Julius Ibrani juga yakin pernyataan Novel Baswedan kepada majalah Time bukan lah pernyataan terakhirnya kepada publik terkait kasus penyiraman tersebut. Lain itu, Novel Baswedan diyakini akan terus membeberkan kasusnya kepada publik selama Polisi belum menuntaskan pekerjaannya.

loading...