kompol-anderson-siringoringo-1
Kapolsekta Tanah Jawa Kompol Anderson Siringoringo, pelaku melakukan persalinannya sendiri tanpa dibantu orang lain. Menggunakan sebilah parang, pelaku memotong sendiri tali pusar sang bayi.

PEMATANGSIANTAR, harianpijar.com – RS warga Huta Pondok II, Nagori Buntu Bayu, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, ditangkap polisi. Pasalnya, perempuan berinisial RS ini kedapatan membunuh bayinya yang baru ia lahirkan.

Berdasarkan informasi yang terkumpul, bayi malang tersebut merupakan hasil hubungan gelapnya dengan seorang pria. Akibat perbuatannya, RS yang janda ini harus mendekam di penjara. Sementara anak-anaknya yang lain menjadi terlantar.

Selain itu, menurut RS, dirinya yang sudah menjanda sejak lima tahun ini, merasa kalut dan takut setelah mengetahui dirinya hamil.

Sementara, RS juga mengatakan, ayah dari bayi tersebut seorang duda berinisial S dan sudah berjanji akan bertanggungjawab. Namun, RS yang sudah beranak lima ini tak mampu menguasai dirinya.

Sehingga dirinya mengambil keputusan untuk melahirkan anaknya di ladang pada Senin 29 Mei 2017 lalu, sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, tindakannya tersebut membuat warga curiga, setelah dirinya pulang dengan perut yang tidak lagi besar.

Kemudian, setelah melakukan persalinan, RS menyumpal mulut bayi yang berkelamin laki-laki itu agar tidak bersuara dengan menggunakan celana dalamnya. Melihat bayi laki-lakinya masih bernafas, RS memutuskan mencekik lehernya menggunakan tangan.

Baca juga:   Pemkot Pematangsiantar Gelar Konsultasi Publik Revisi Perda RT/RW

Selanjutnya, RS merasa belum yakin bayi laki-lakinya tersebut meninggal, kembali leher bayinya diikat pakai sobekan kain panjang yang saat itu dipakainya.

Namun, setelah meyakini bayi laki-lakinya meninggal, RS membungkus bayi tersebut dengan kain panjang. Setelah itu, tersangka RS pergi dan kembali ke rumah.

Sementara, RS sambil berurai air mata, mengaku sangat menyesal mengingat lima anaknya tidak ada lagi yang merawat.

“Siapalah yang merawat anakku. Mereka sangat butuh perhatian dan kasih sayang. Semoga Tuhan memberi ketabahan kepada anak-anakku,” kata RS, Sabtu 3 Juni 2017.

Berdasarkan informasi yang diterima dari warga Huta Pondok II, Nagori Buntu Bayu, tempat tinggal pelaku. Anaknya tetap tinggal di rumah mereka. Sementara, anak sulung RS diketahui sudah menikah dan tinggal di perantauan.

Sedangkan, anak-anak yang tinggal di rumah semua masih sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Paling bungsu dikabarkan masih kelas 2 sekolah dasar.

Sementara, menurut Kapolsekta Tanah Jawa Kompol Anderson Siringoringo, mengatakan, terbongkarnya kasus ini berawal dari datangnya laporan masyarakat yang memberikan informasi.

Baca juga:   Mobil Dinas Wadir RS M.Yunus Bengkulu, Tabrak Dua Warga Hingga Tewas

Selanjutnya, ditegaskan Kompol Anderson Siringoringo, informasinya pada tanggal 29 Mei 2017 itu, pelaku pergi ke ladang dalam keadaan perut besar, namun ketika pulang perut pelaku sudah kempis. Hal tersebut menimbulkan kecurigaan besar bagi warga dan melaporkannya ke petugas.

Selanjutnya, petugas langsung mencari pembuktian atas kecurigaan warga tersebut di lokasi perladangan yang diduga didatangi pelaku.

Setelah dilakukan pencarian, ditemukan sebuah kantong plastik yang di dalamnya ada seorang bayi yang sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Kemudian, petugas pun langsung mengevakuasi jasad bayi itu dan membawanya ke RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar.

“Pelaku melakukan persalinannya sendiri tanpa dibantu orang lain. Menggunakan sebilah parang, pelaku memotong sendiri tali pusar sang bayi,” kata Kompol Anderson Siringoringo.

Sedangkan, akibat perbuatannya, RS dijerat dengan Pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) Undang-undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

“Soal pria yang disebut sebagai ayah bayi, pihaknya masih melakukan pendalaman,” tandas Kapolsekta Tanah Jawa itu.

Loading...

Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of