pemkab-bgr
Drs R Panji Kysatriadi, M.Si. (foto: Tabloid Visual)

Sampah, merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh banyak kota di seluruh dunia. Semakin tingginya jumlah penduduk dan aktivitasnya, membuat volume sampah terus meningkat. Akibatnya, untuk mengatasi sampah diperlukan biaya yang tidak sedikit dan lahan yang semakin luas.

Disamping itu, tentu saja sampah membahayakan kesehatan dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan sampah dimaksudkan agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia dan tidak mencemari lingkungan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memperoleh manfaat atau keuntungan bagi manusia. Hal ini didasari oleh pandangan bahwa sampah adalah sumber daya yang masih bisa dimanfaatkan dan bahkan memiliki nilai ekonomi. Pandangan tersebut muncul seiring dengan semakin langkanya sumber daya alam dan semakin rusaknya lingkungan.

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Proses yang dimaksud adalah merupakan proses yang dilakukan oleh manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berupa padat, cair, dan gas. Sampah yang berupa gas disebut emisi. Emisi biasa juga dikaitkan dengan polusi.

Namun sampah banyak dihasilkan oleh aktivitas industri yang kemudian dikenal dengan istilah limbah. Berdasarkan sumbernya, sampah dapat dibagi atas enam yaitu sampah alam, manusia, konsumsi, nuklir, industri, dan pertambangan. Namun, berdasarkan sifatnya terdiri dari sampah organik (dapat diurai atau degradable) dan sampah anorganik (tidak dapat diurai atau undegradable).

Berkaitan dengan hal tersebut Pemerintah telah mencanangkan setiap tanggal 21 Februari adalah Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Hari Peduli Sampah Nasional Tingkat Kabupaten Bogor dilaksanakan dengan mengadakan kegiatan pembersihan sampah di Jalan Raya Puncak KM 84, Desa Tugu Utara, Cisarua – Bogor. Kegiatan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2017 dengan bertemakan Keep and Save Puncak ini bertujuan meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat Kabupaten Bogor mulai dari pribadi, komunitas sampai dengan perangkat daerah kabupaten Bogor dalam mengelola sampah untuk mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020.

Kegiatan ini dicanangkan oleh Bupati Bogor, dan aksi pungut sampah dilakukan setelah pembacaan Deklarasi oleh Bupati Bogor yang diikuti oleh seluruh peserta. Hasil dari kegiatan aksi pungut sampah dan aksi bersih saluran didapatkan sampah yang terkumpul sebanyak 60 ton yang terdiri dari sampah organik dan sampah an-organik. Bahkan tersebut juga diselenggarakan di 6 (enam) titik yaitu Desa Tugu Utara, Desa Tugu Selatan, Kampung Persit, Kec Ciawi, Kec Megamendung, Kec Cisarua, Kec Ciseeng, Kec Jasinga , Kec Cileungsi, Kec Parung, Kec Cibinong, Kec Leuwiliang serta di setiap Perangkat Daerah.

Juga kegiatan tersebut didukung Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Hotel Grand Hill, PT Taman Safari Indonesia, PT PN Gunung Mas, KFC Tugu Utara, IWAPI, MAPI, Taman Wisata Matahari, Aqua Caringin, PDAM Tirta Kahuripan, Konsorsium Save Puncak, Ecovillage, Pos Pandai Nusantara dan beberapa stasiun TV.

Selain Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Pemerintah Kabupaten Bogor memperingati juga Hari Air Dunia XXV pada tanggal 21 Maret 2017. Hari Air Dunia (World Water Day), dicetuskan pertama kali  pada tahun 1992 saat diselenggarakannya United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Bumi oleh PBB di Rio de Janeiro  Pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 melalui Resolusi Nomor 147/1993, sekaligus menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Air Dunia setiap tanggal 22 Maret  dan mulai diperingati sejak tahun 1993. Peringatan Hari Air Sedunia tahun 2017 kali ini, mengangkat tema “Wastewater” Tema ini jika dialihbahasakan menjadi  “Air Limbah”, secara global memfokuskan perhatian pada pentingnya air tawar dan advokasi untuk pengelolaan sumber daya air tawar berkelanjutan, dengan target untuk meningkatkan daur ulang air dan menggunakannya kembali dengan aman serta mengurangi proporsi air limbah yang tidak diolah.

Oleh karenanya Program-program pendidikan konservasi harus diajarkan sejak usia dini. Bersamaan dengan itu kampanye masif untuk menyadarkan pentingnya konservasi sumber daya air harus terus menerus dilaksanakan. Pendidikan lingkungan berbasis pendidikan non-formal seperti Wisata Flora di Kebun Raya Bogor, bisa menjadi acuan untuk ikut menggemakan konservasi sumber daya air di tanah air.***

Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of