I Wayan Sudirta, kliennya akan menyusun sendiri nota pembelaan (pleidoi) atas tuntutan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun.

JAKARTA, harianpijar.com – Sidang lanjutan ke-21 perkara dugaan penodaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), besok Selasa, 25 April 2017, kembali digelar.

Lain itu, rencananya sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara ini, diagendakan pembacaan pembelaan oleh terdakwa dan tim kuasa hukumnya.

Sebelumnya, pada sidang ke-20 Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan hukuman pidana 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Tuntutan tersebut dibacakan pada sidang, hari Kamis 20 April 2017 lalu.

“Perbuatan saudara secara sah dan meyakinkan telah memenuhi unsur 156 KUHP, oleh karena itu terdakwa harus dijatuhi pidana 1 tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun,” kata Ketua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Mukartono di hadapan majelis hakim, Kamis 20 April 2017.

Sementara, terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), seusai menjalani persidangan mendengarkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) kembali ke Balai Kota DKI Jakarta.

Saat ditanya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tampak enggan menanggapi tuntutan tersebut. Namun, semua tanggapannya akan dituangkan dalam pembacaan pledoi.

“Kamu tanya pengacara lah, enggak ngerti aku, nanti baca pledoi saja,” kata Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis 20 April 2017 pekan lalu.

Sementara, menurut salah seorang tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), I Wayan Sudirta, mengatakan, kliennya akan menyusun sendiri nota pembelaan (pledoi) atas tuntutan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun.

“Pak Ahok akan bikin sendiri, akan menyampaikan kata hatinya lebih bisa menyentuh perasaan masyarakat dan majelis hakim,” kata I Wayan Sudirta di gedung Priamanaya Energy, Jalan Proklamasi, Jakarta, Jumat 21 April 2017 pekan lalu.

Lebih lanjut, I Wayan Sudirta mengatakan, kliennya ingin membuktikan pernyataan saat bertemu warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu tidak berniat memusuhi umat Islam.

“Ia (Ahok) ingin membuktikan tidak ada niat buruk unsur kesengajaan dan kalau terbukti Pasal 156 lolos karena niat buruk tidak. Tidak masuk akal, gubernur kok memusuhi umatnya,” kata I Wayan Sudirta.

loading...