Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Drs Yusri Yunus, penyidik sudah dua kali memanggil tersangka namun tak pernah hadir. Akhirnya polisi menjemput paksa yang bersangkutan.

GARUT, harianpijar.com – Wawan Setiawan (51) warga Kampung Cibodas Ria, Desa Tegal Gede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, mengaku dirinya sebagai Jenderal Negara Islam Indonesia (NII), akhirnya dijemput paksa jajaran Polres Garut.

Lain itu, penjemputan paksa terhadap Wawan yang mendeklarasikan agar pengikutnya melaksanakan salat lima waktu menghadap timur (bukan kiblat) diciduk polisi di rumahnya sekitar pukul 09.30 WIB, Jumat 21 April 2017. Saat dibawa polisi, Wawan (51) sempat melawan dan berontak namun akhirnya dilumpuhkan polisi dengan cara diborgol tangan dan kakinya.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Drs Yusri Yunus, Wawan Setiawan dijemput paksa lantaran sudah dua kali tidak memenuhi panggilan polisi. Sementara, Wawan Setiawan telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan penodaan agama dan mufakat makar sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 156a KUHP dan Pasal 53 juncto Pasal 107 juncto Pasal 110 KUHP.

Lebih lanjut, dikatakan Kombes Pol Yusri Yunus, penangkapan tersangka, berdasarkan Nopol LP/A/32/III/2017/ tanggal 30 Maret 2017 serta Sprin membawa No 231B/IV/2017/ tanggal 21 April 2017.

“Penyidik sudah dua kali memanggil tersangka namun tak pernah hadir. Akhirnya polisi menjemput paksa yang bersangkutan,” kata Kombes Pol Yusri Yunus, Sabtu 22 April 2017.

Lain itu, menurut Kombes Pol Yusri Yunus, setelah dijemput tersangka langsung dibawa ke Mapolres Garut untuk menjalani pemeriksaan. Namun selama proses pemeriksaan, tersangka tidak menjawab pertanyaan penyidik dengan alasan dilarang oleh pimpinan dia yaitu Panglima Tertinggi NII Jenderal Sen Sen Komara.

“Pengikut Wawan diperkirakan hanya berjumlah sembilan orang. Mereka sudah dimintai keterangannya oleh penyidik. Sedangkan sosok Jenderal Sen Sen masih belum diketahui keberadaannya,” kata Kombes Pol Yusri Yunus.

Sementara, dijelaskan Kombes Pol Yusri Yunus, dari hasil penyidikan yang dilakukan polisi diketahui ajaran kelompok Wawan telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut. Lain itu, kelompok Wawan tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan mereka mengakui yang menjadi rasul adalah Jenderal Sen Sen.

Bahkan, tak hanya itu ajaran ini juga mengubah syahadat menjadi asyhadualla illa hailallah, Sen Sen Komara rashulullah. “Dengan ajaran seperti itu kelompok ini menyimpang. Karena itu dilakukan proses hukum,” tandas Kombes Pol Yusri Yunus.

Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of